“Megae” Cara Tradisional Olah Pertanian di Desa Pedawa yang di Buru Lensa Komunitas Fotografer Buleleng

KBRN, Singaraja: Ditengah kemajuan teknologi, membajak sawah dengan menggunakan kerbau atau sapi sudah mulai ditinggalkan. Biasanya petani memanfaatkan mesin traktor untuk menggarap sawahnya.

Namun, berbeda dengan masyarakat di Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali. Masyarakat di salah satu Desa Bali Aga itu tetap eksis mempertahankan membajak sawah dengan cara tradisional, yakni menggunakan tenaga sapi yang dikenal oleh masyarakat Bali dengan istilah metekap atau istilah lokalnya oleh masyarakat Pedawa disebut “Megae”.

Putu Yuli Supriandana Ketua Komunitas Kayoman Pedawa kepada RRI, Minggu (8/3/2020) mengatakan tradisi megae memiliki nilai filosofis yang syarat akan budaya kehidupan tradisi Bali.

Ditengah gempuran moderenisasi membajak dengan tenaga hewan itu menjadi dayatarik tersendiri bagi wisatawan sehingga Ketua Kayoman Yuli Supriandana berharap masyarakat setempat  tetap konsisten untuk mepertahankan tradisi “Megae”

“Kita hadirkan teman penggiat fotografi dan videografi untuk mengabadikan kegiatan megae, ini menjadi semacam motivasi untuk masyarakat setempat agar mereka tetap semangat menjaga tradisinya. Ini adalah aset desa Pedawa untuk bisa menjadi Daya Tari Wisata (DTW),” ungkapnya.

Tanggapan oleh Ketua Kayoman tersebut dibuktikan dengan antusias sejumlah komunitas pecinta fotografi di Buleleng yang berbondong-bondong ingin menyaksikan kegiatan yang sudah mulai langka tersebut. Tak lupa bidikan lensa kepada aktifitas masyarakat tradisional itu direkam melalui kameranya untuk  diabadikan.

Yudha Martin salah seorang forografer Buleleng yang ikut dalam kegiatan hunting bareng di Desa Pedawa itu mengatakan sungguh terkesan. Budaya, ramah tamah dan keasrian Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa menjadi pengalaman yang luar biasa.

“Untuk di Bali Sendiri jarang bisa kita jumpai, yang benar-benar khas adalah sambutan masyarakatnya begitu ramah. Kita juga dibantu sehingga sangat mudah untuk menangkap moment yang jarang sekali bisa kita jumpai. Selain itu tujan kami adalah mempromosikan pariwisata Pedawa dan mengharapkan kedepan ada event lanjutan dan regular yang menjadikan Pedawa dikenal luas,” ungkap Martin.

Ia menambahkan menangkap gambar aktifitas membajak sawah secara tradisional menggunakan sapi tentunya  menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, sehingga mereka akan datang lagi ke Desa Pedawa untuk berwisata.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00