Siasat Jaga Mutu dan Kualitas Stroberi Pancasari, Penanganan Pasca Panen Jadi Solusi Petani Musim Panen Raya

KBRN, Singaraja: Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali termasuk daerah penghasil Buah Strawberi dengan kualitas terbaik di Pulau Dewata. Kondisi iklim dan kelembaban yang memadai membuat buah yang berwarna merah dengan rasa asam manis ini bisa tumbuh subur di Desa Pancasari.

Strawberi merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang digemari dan paling populer di masyarakat. Namun tak jarang ketika hasil melimpah, permasalahan muncul dirasakan petani seperti turunnya harga beli buah tersebut dibarengi penumpukan hasil panen melimpah yang sulit disimpan dalam waktu relative lama. Buah yang tumbuh di dataran tinggi itu memiliki daya tahan kurang dari sehari bila disimpan dalam suhu ruang.

Hal itulah yang menginisiasi Wayan Seria Ketua Bali Buyan Berry menggelar pelatihan penanganan pasca panen terhadap buah yang kaya akan vitamin. Dikonfirmasi RRI, Senin (9/11/2020), mengatakan penanganan pasca panen ditujukan untuk mengetahui kemampuan petani guna mendapatkan nilai jual sampai ke tangan konsumen dengan keadaan baik dan berkualitas.

“Penanganan pasca panen dari sortasi buah segar grading dan packing dengan harapan nanti memberikan nilai lebih dari proses yang dilakukan, selain itu dengan adanya pandemi ini surplus produksi dan tidak terserap oleh pasar diolah menjadi produk turunan, dengan harapan olahan ini dapat dijadikan oleh-oleh wisata saat berkunjung kepancasari. Produk turunan bisa dalam bentuk menjadi selai stroberi, syrup, manisan, buah kering sesuai dengan permintaan pasar,” ungkapnya.

Sementara itu, sejalan untuk mendukung program tersebut, Universitas Udayana (Unud) Denpasar melalui Udayana Community Development Program (UCDP), Prof.Dr. Made Suparta Utama terus menggairahkan jajaran dan pelaku pembangunan pertanian khususnya petani untuk meningkatkan volume dan kualitas produksi. Termasuk kreatifitas dan inovasi pasca panen agar buah mungil ini memiliki nilai jual yang tinggi.

Kegiatan pasca panen bertujuan mempertahankan mutu produk segar agar tetap prima sampai ke tangan konsumen, menekan losses  karena penyusutan dan kerusakan, memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai ekonomis hasil pertanian. Proses pengolahan ini menyasar sebagian stroberi hasil panen yang tidak layak dijual dalam bentuk segar, sehingga tidak terbuang dengan percuma.

“Kita bisa pasarkan stroberi yang segar sementara hasil yang melimpah bisa kita kemas dalam bentuk frozen atau dibekukan, untuk digunakan sebagai produk olahan lain. Nilai ekonomis juga tetap tidak ada kerugian bagi petani,” ungkap Made Suparta Utama.

Lebih jauh Prof.Dr. Made Suparta Utama menjelaskan pentingya menjaga mutu dari hasil panen stroberi di desa Pancasari mengingat minimnya usaha-usaha dari petani mempertahankan kualitas buah yang kaya vitamin ini.

Sementara Ketua Forum Petani Muda Bali, sekaligus Founder Petani Muda Keren Anak Agung Gede Agung Wedhatama merespon dengan baik. Pihaknya mendukung program pengolahan pasca panen dengan harapan gairah pertanian stroberi pancasari terjaga baik.

“Kami melihat sejauh ini mata rantai sudah berhasil dibuat dengan detail dari hulu sampai hilir. Dari budidaya sampai pemasaran sudah berjalan baik dan stabil. Sehingga melalui edukasi inovasi pasca panen dapat membantu petani terhindar dari kerugian. Sekaligus Untuk menambah pengetahuan  dikelompok tani, memberikan opportunity baru mengenai stroberi. Solusi dalam penangan stroberi. Tidak ada lagi stroberi yang terbuang. Jadi sangat effiisen,” tambah Agung Wedhatama.

Mendukung upaya tersebut, sebelumnya digelar peresmian P4S Budidaya Stroberi Pancasari sekaligus sosialisasi penanganan pasca panen oleh Ketua Panitia Wayan Sria dengan menghadirkan narasumber Agung Wedhatama dari Forum Petani Muda Bali serta UCDP oleh Prof.Dr. Made Suparta Utama.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00