COVID-19 Tidak Pengaruhi Inflasi di Buleleng

KBRN, Singaraja : Tingkat inflasi di Buleleng tidak terpengaruh oleh wabah COVID-19 yang terjadi saat ini. Untuk inflasi di Buleleng masih terkendali dengan angka 0,15 persen pada bulan Maret 2020.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng, Ni Made Rousmini menjelaskan, lembaga yang berwenang menghitung tingkat inflasi adalah Badan Pusat Statistik (BPS) yang ada di masing-masing kabupaten. Dari data yang diperoleh dari BPS Kabupaten Buleleng, saat ini tingkat inflasi di Bali Utara masih dalam kondisi terkendali.  Angkanya berada di 0,15 persen pada bulan Maret 2020. Sedangkan untuk inflasi nasional sebesar 0,10 persen.

“Ini masih dikategorikan terkendali dan wabah COVID-19 tidak mempengaruhi tingkat inflasi tersebut,” jelas Rousmini, di ruang kerjanya, Kamis (2/4/2020).

Namun, dengan semakin merebaknya wabah COVID-19, Pemkab Buleleng tetap melakukan upaya-upaya pengendalian dan mempertahankan angka tersebut. Salah satu upayanya adalah terjun langsung ke lapangan memantau harga di pasar-pasar bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Buleleng. Perusahaan Daerah (PD) Pasar pun ikut mengawasi harga-harga yang sudah ada saat ini maupun ikut mengendalikan inflasi yang terjadi.

“Tetap dengan memperhatikan pola yang dianjurkan pemerintah yaitu menjaga jarak (social distancing.red), dengan tim yang terbatas memantau harga-harga di pasar dan mengendalikan inflasi,” ujar Rousmini.

Lebih lanjut, Rousmini mengatakan yang sangat menentukan besaran angka inflasi adalah ketersediaan komoditi, daya beli masyarakat dan kelancaran distribusi. Tiga hal tersebut yang menyebabkan terbentuknya angka tingkat inflasi. Seperti contoh komoditi bawang putih. Buleleng masih sangat tergantung dengan Kabupaten Bangli.

“Tentunya ini sangat berpengaruh kelancaran distribusinya karena masing-masing kabupaten memiliki kebijakan tersendiri terkait pendistribusian barang,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Buleleng, I Nyoman Giri Putra menyebutkan angka 0,15 persen pada bulan Maret 2020 tersebut berdasarkan survei biaya hidup di perkotaan. Namun, survei mencakup sampai dengan Seririt. Ada sebelas kelompok pengeluaran yang disurvei untuk tingkat inflasi. Dari sebelas tersebut, enam mengalami inflasi, tiga kelompok mengalami deflasi, dan dua kelompok yang stagnan.

“Yang paling besar ada pada kelompok perlengkapan rumah tangga dan juga laundry. Laundry paling besar sebanyak 25 persen penyumbang inflasi,” sebutnya.

Giri Putra menambahkan, untuk wabah COVID-19 ini pasti ada pengaruhnya. Namun, survei hanya dilakukan tiga minggu di lapangan. Minggu pertama, kedua dan ketiga bulan Maret memang melakukan survei langsung dan minggu keempat Maret menggunakan data sekunder. Data sekunder digunakan karena adanya penerapan social distancing sehingga terbatas pada keluarga pegawai BPS Buleleng yang kebetulan berbelanja dan juga tanpa wawancara tatap muka.

“Data sekunder ini masih valid dan bisa dipertanggungjawabkan,” tutup Giri Putra.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00