Dinas PKP Bangli Bakal Optimalkan Pengolahan Kopi di Subak Abian

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma

KBRN, Bangli : Untuk meningkatkan nilai ekonomis kopi arabika di Kabupaten Bangli, sekaligus mengangkat pendapatan petani, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli bakal mengoptimalkan pengolahan kopi arabika di tingkat subak abian. Dimana selama ini terdapat 25 unit pengolahan yang tersebar di sejumlah subak. 

Kadis PKP Bangli, I Wayan Sarma saat dikonfirmasi, Senin (5/4/2021) mengatakan Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta dan Wabup I Wayan Diar, memiliki perhatian cukup besar pada sektor pertanian. Dia berharap dengan perhatian ini, nantinya PKP Bangli mendapatkan tambahan anggaran untuk membangkitkan usaha pengolahan kopi di tingkat subak abian. 

“Beliau memiiki perhatian cukup besar pada pembangunan pertanian, mudah-mudahan kita dapat tambahan anggaran untuk mengoptimalkan unit pengolahan kopi tersebut,” jelas Sarma.

Selama ini, menurut Sarma pengolahan kopi kebanyakan dilakukan diluar Bangli, seperti Singaraja. Dengan pengolahan  diluar itu, tentunya tidak lagi memakai  brand kopi Kintamani. Hal itu tentunya menjadi kerugian bagi petani kopi Bangli yang berupaya memperkenalkan kopi Kintamani ke masyarakat luar.

“Tata kelola pemasaran inilah yang ingin kita benahi nanti,” ucapnya.

Selama ini, lanjut Sarma, memang telah ada semcam koperasi, seperti Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kintamani Bali. Yang mana, MPIG terdiri dari kelompok petani produsen kopi gelondong merah yang beranggotakan krama subak abian (petani kebun), pengolah kopi dengan anggota kelompok subak abian, pengolah, dan penyangrai swasta yang tersebar di sejumlah daerah. “

“Brand produknya mereka selama ini adalah Kopi Arabika Kintamani. Namun demikian, kami ingin kedepan unit usaha olahan kopi ini makin banyak,” imbuhnya.

Disinggung luas tanaman kopi di Kabupaten Bangli, menurut Sarma, luas tanaman sering berpluktuasi. Disebutkan, untuk tahun 2020 luas tanaman kopi alami peningkatan sekitar 1 hektar, dari  5.884 hektar tahun 2019, menjadi 6.152 hektar tahun 2020. Dari luas lahan tersebut mampu menghasilkan sekitar 2.918,37 ton pertahun.

“Petani kita banyak mengembangkan kopi dengan sistem tumpang sari dengan jeruk,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00