Sejumlah Ternak di Jembrana Suspect PMK

Sejumlah Ternak di Jembrana Suspect PMK

KBRN, Negara: Menindaklanjuti laporan beberapa ternak warga yang mengalami gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), petugas Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana bersama BBVet Denpasar melakukan langkah cepat dengan memeriksa hewan ternak yang dilaporkan mengarah PMK dengan dilakukan surveilans atau pengambilan sampel darah dan liur. 

Dari pantauan di lapangan, satu persatu hewan ternak yang dilaporkan mengarah ke PMK dilakukan surveilans atau pengambilan sampel darah dan liur dari hewan sapi tersebut. Hasilnya, dari sejumlah hewan yang diambil sampel, beberapa ekor memiliki gejala alias suspek PMK. Total ada sekitar 21 ekor hewan sapi yang mengalami gejala mengarah ke PMK.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Sutama dikonfirmasi, Minggu (3/7/2022) mengatakan, pasca ditemukannya kasus PMK di tiga wilayah lainnya, pihaknya menggandeng BBVet untuk melakukan pengecekan kesehatan hewan sapi di sejumlah titik.

"Kita lakukan pemantauan sekaligus menindaklanjuti laporan dari medikvet. Karena kemarin tanggal 28 Juni ada laporan hewan dengan indikasi atau tanda-tanda yang mengarah ke PMK," ungkapnya. 

Sejumlah Ternak di Jembrana Suspect PMK

Sutama juga menjelaskan, tiga titik lokasi yang dikunjungi, diantaranya di Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung, kemudian ke Lingkungan Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo. Serta ke Desa Banyubiru, Kecamatan Negara.

"Tim dari Bidang Keswan-Kesmavet Kabupaten Jembrana bersama petugas BBVet Denpasar memeriksa ternak sapi dengan total ada sekitar 21 ekor yang mengalami gejala mengarah ke PMK," jelasnya. 

Sutama menambahkan, pengambilan sampel darah dan swab pada hewan ternak dilakukan untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui kepastian apakah hewan tersebut terjangkit PMK atau tidak.

"Melalui uji laboratorium nanti akan menentukan benar atau tidaknya (PMK). Hasilnya keluar mungkin 5-7 hari ke depan. Sekaligus untuk mengetahui langkah ke depan yang akan dilakukan, namun gejalanya mengarah ke PMK. Sementara total populasi sapi di gumi makepung ini sebanyak 35.131 ekor," tegasnya.

Sutama menceritakan, sejatinya pada bulan Mei 2022 lalu, pihaknya sudah mengedarkan surat edaran dari Bupati Jembrana terkait antisipasi atau pencegahan PMK. Selain itu, Forkompinda juga telah melakukan pemantauan ke spot-spot. Namun, memang diakui banyak faktor yang menyebabkan kasus ini muncul di Bali. Mulai dari tranportasi (lalulintas) ternak, alat transportasi, pakan, ternak dan sebagainya. 

"Kami imbau kepada masyarakat khususnya peternak di Kabupaten Jembrana agar segera menginformasikan atau melaporkan kepada petugas terdekat jika ternaknya ada mengalami gejala serupa," himbaunya.

Lakukan desinfeksi dan kebersihan kandang dijaga dengan ketat. Kemudian juga peternaknya juga diharapkan tidak mengunjungi ternak lainnya.

"Artinya tidak hanya sapi, tapi kambing, babi, hingga kerbau juga," pungkas Sutama.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar