Sejumlah Padi di Jembrana Rebah, Petani Merugi

Sejumlah tanaman padi milik warga yang rebah akibat hujan lebat

KBRN, Negara : Cuaca tidak menentu yang terjadi akhir-akhir ini di Kabupaten Jembrana mempengaruhi berbagai sektor, salah satunya pada sektor pertanian. Sejumlah padi milik warga terlihat rebah (tumbang) saat mendekati masa panen tiba, sehingga padi-padi tersebut terancam gagal panen dan mengakibatkan kerugian. 

Selain faktor DPI (dampak perubahan iklim) seperti angin serta hujan lebat, faktor lain juga diduga sebagai pemicu rebahnya padi warga tersebut, salah satunya akibat pemberian pupuk yang salah atau tidak berimbang cenderung petani saat ini, serta faktor lainnya yaitu pemilihan atau varietas benih (bibit) padi yang salah, ketinggian tanaman harus diperhatikan. 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana I Wayan Sutama, SP., M.Si. saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (23/06/2022). Pihaknya juga menjelaskan, banyak faktor penyebab padi rebah.

"Yang harus diperhatikan betuk adalah varietas benih, dan pemilihan pupuk yang tepat, karena aplikasi pupuk tidak berimbang cendrung menggunakan pupuk dengan kandungan N tinggi, unsur P, K kurang serta unsu mikro lainnya," paparnya. 

Sementara salah seorang petani di Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana Ketut Subagia (43) saat ditemui mengatakan, sebagian padi miliknya sudah rebah sebelum hari raya Galungan kemarin.

“Dari 80 are lahan sawah saya hanya beberapa petak yang tidak rebah, terparah kemarin saat hujan lebat itu sebagian besar rebah, untuk yang rebah masih saya biarkan lantaran susah jika dipanen menggunakan alat berat (combi)," jelasnya. 

Akibatnya, lanjut Subagia, dirinya sudah dipastikan merugi, namun Ia berencana akan memanen padi tersebut gotong-royong dengan keluarga serta petani lainnya.

"Mau gimana lagi, sudah pasti rugi, karena lama rebah biasanya biji padinya banyak yang berjatuhan ketanah, ya kita panen secara manual saja dan diolah sendiri untuk dijadikan beras untuk dimasak, itung-itung tidak beli beras nanti," ujarnya. 

Hal serupa juga diungkapkan petani lainnya Nengah Netri (64) asal Desa Berawan Salak, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana saag ditemui terpisah, dirinya menyebutkan jika padi sudah rebah susah dipanen dengan combi.

"Sekarang seka (grup) panen manual sudah jarang, kalah dengan mesin, tapi kalau rebah begini susah dengan combi apalagi tanah yang basah dan berlumpur, malah padinya dilindas-lindas saja, rugi juga," imbuhnya. 

Netri juga mengatakan, berbagai upaya sudah dilakukan dirinya bersama suaminya untuk mengatasi padinya yang rebah tersebut.

"Suami saya sampai ikat beberapa padi dijadikan satu ikat berbentuk kerucut bertujuan agar padinya itu berdiri kembali, sehingga masih bisa dipanen menggunakan combi, namun karena terlalu luas juga kami kelelahan harus ikat satu per satu, kita juga sudah panggil seka panen, masih nunggu," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar