Kasus Rabies di Bangli Meningkat, 43 Orang Positif Rabies

KBRN, Bangli: Kasus gigitan ajing fositif rabiaes hingga akhir mei di Kabupaten Bangli cukup tinggi, hingga kini tercatan 43 orang terkena gigitan ajing positif rabies dan tersebar di 33 desa.

Jumlah gigitan ini meningkat dari tahun sebelumnya. Dimana pada tahun 2019 silam, jumlah desa yang ditemukan kasus rabies hanya 18 desa. Sementara kasus gigitan pada manusia tahun 2021 lalu mencapai 102 orang.

Saat dikonfirmasi terkait jumah gigitan anjing positif rabies, Senin (23/5/2022), Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangli, dr. Nyoman Arsana mengungkapkan jika sejak Januari hingga akhir Mei ini sudah terjadi 1.093 kasus gigitan. Dari jumlah tersebut, 43 orang diantaranya dinyatakan positif rabies. 

"Setiap korban gigitan yang sedang maupun beresiko tinggi sudah mendapatkan VAR (vaksin anti rabies) dan SAR. Yang SAR untuk yang beresiko tinggi. Dan semua sudah aman tertangani. Kasus gigitan beresiko tinggi yang dimaksud adalah berada di areal atas leher atau wajah yang mendekati otak," ungkapnya.

Lanjut dirinya menjelaskan, jika sebagian besar kasus gigitan terjadi pada anak-anak usia di atas 5 tahun. Selain itu gigitan jiga terjadi pada usia 70 tahun.

"Ada 33 titik lokasi ditemukan kasus rabies tersebar di empat kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Bangli 10 kasus (10 desa), Kecamatan Tembuku 8 kasus, Kecamatan Susut 11 kasus, Kecamatan Kintamani 14 kasus,” jelasnya.

Selain itu dirinya menyampaikan untuk ketersediaan VAR di Kabupaten Bangli  masih sangat cukup. Dimana saat ini stok VAR masih tersedia 110 vial di dinas kesehatan dan 20 vial di masing-masing unit pelayanan di tip Desa.

“Kalau VAR stok kita banyak , Selasa (24/5) akan datang 500 vial lagi. Hanya saja untuk ketersediaan SAR, tidak ada stok di kabupaten. Sebab, ketersediaan SAR hanya ada di Kemenkes dan pengamprahannya melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Kita ada grup yang langsung terhubung dengan provinsi dan pusat. Jadi ketika ada kasus baik tinggi mau beresiko tinggi, pusat sudah langsung tahu. Untuk permintaan SAR langsung kami lakukan saat itu juga melalui provinsi. Dan hari itu juga bisa diberikan pada pasien. Kecuali kejadiannya malam hari, penyuntikan SAR bisa dilakukan besok paginya. Jadi tidak ada stok di daerah, karena penggunaannya selektif,” imbuhnya.

Pihaknya menekankan bagi warga yang tergigit anjing tidak perlu panik, meskipun itu anjing liar. Begitu tergigit, diharapkan langsung mencuci di air mengalir dengan sabun atau deterjen sejenisnya selama 10 hingga 15 menit. Setelahnya ke unit pelayanan kesehatan terdekat untuk mencari vaksin.

“Kalau sudah dicuci dengan standar yang benar, 80 sampai 90 persen,  akan selesai masalahnya. Sampai di puskesmas atau rumah sakit lagi dicuci bersih, lalu diberikan VAR atau SAR bagi yang beresiko tinggi, dipastikan aman,” tegasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar