Jasa Penyeberangan Dermaga Kedisan Kian Anjlok

KBRN, Bangli : Meski pemerintah telah membuka jalur penerbangan untuk wisatawan mancanegara (Wisman) ke Bali sejak 14 Oktober 2021 lalu, namun nyatanya hingga kini belum ada tanda-tanda sektor pariwisata yang selama ini menjadi handalan pemasukan PAD Kabupaten Bangli akan membaik.

Sebaliknya, kondisi dunia pariwisata Bangli dimasa pandemi Covid-19 justru kian terpuruk pasca gempa bumi mengguncang, Sabtu dini hari lalu. Dampaknya, obyek wisata Kintamani dan desa Trunyan pada khususnya yang paling parah terdampak masih nihil dari kunjungan wisman. Karena itu, banyak pemilik perahu cepat yang selama ini mengandalkan mata pencaharian dari jasa penyebrangan Dermaga Kedisan menuju desa Terunyan beralih profesi. 

Hal ini diakui Kepala Gabungan Pengusaha Angkutan Danau Batur dan Sungai (Gapasdap) I Nengah Dester saat ditemui Rabu (20/10/2021) di Dermaga Kedisan, Kintamani. Merosotnya tingkat kunjungan wisatawan ke desa Terunyan, diakui telah terjadi mulai dari masa pandemi Covid-19 tahun 2019.

“Sekarang saat wisatawan mancanegara sudah dibuka lagi, justru terjadi gempa disertai tanah longsor. Hal ini yang menyebabkan penggunaan jasa penyebrangan di Dermaga Kedisan anjlok hingga 80 persen,” ungkapnya.

Kata dia, memang wisatawan mancanegara sudah dibuka sejak tanggal 14 Oktober.

“Namun sejauh ini belum ada kunjungan wisatawan. Dari empat hari terakhir sama sekali tidak ada yang nyebrang. Kemungkinan karena takut dampak gempa,” jelas Dester.

Padahal, disebutkan, saat kondisi masih normal sebelum Corona melanda, penyebrangan per hari bisa di Dermaga Kedisan bisa mencapai 10 hingga 12 boat.

“Dimasa pandemi, dalam satu minggu baru bisa 3 sampai 5 boat yang menyebrang ke desa Trunyan,” jelasnya.

Dengan kata lain, lanjut Dester, dalam satu hari sama sekali tidak ada penyebrangan.

Atas kondisi tersebut, lanjut dia, tentunya akan berpengaruh terhadap anjloknya PAD Bangli.

“Sejak Covid-19, retribusi yang kita setor ke daerah turun sampai 80 persen,” jelasnya.

Padahal, sebelum Covid pihaknya mengaku mampu meraup PAD dari retribusi jasa penyebrangan danau Batur mencapai Rp50 juta hingga Rp75 juta per tahun.

“Dengan konsisi sekarang, kita  tidak berani menargetkan besarannya,” ungkapnya. 

Meski demikian mengacu realisasi  tahun lalu (2020), pihaknya  mampu merealisasikan Rp 10 juta saja. “Padahal saat itu, dua kali Dermaga Kedisan sempat ditutup selama tiga bulan,” ungkapnya.

Dampak sepinya penggunaan jalur penyebarangan Danau Batur, lanjut Dester, juga menyebabkan pemilik perahu cepat yang terhimpun dalam Koperasi Pariwisata Danau Batur dengan jumlah anggota 80 orang dari tiga desa (Kedisan, Abang dan Trunyan) telah banyak beralih profesi. 

“Dari 80 anggota, yang masih beroperasi paling hanya 20 anggota saja. Sisanya, sudah ada yang menjadi petani, bisnis jual ikan hingga tukang bangunan,” bebernya.

Karena itu, pihaknya turut berharap dunia pariwisata bisa kembali membaik sehingga perputaran perekonomian masyarakat bisa segera pulih.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00