Disdikpora Bangli Berencana Kembali Gelar PTM Terbatas

KBRN, Bangli : Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli berencana kembali menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) yang rencananya akan mulai digelar sekitar akhir bulan September atau awal Oktober. Hal tersebut seiring dengan Turunnya level Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Bangli menjadi level 3, sehingga memberikan kesempatan kembali menggelar PTM.

Saat dikonfirmasi Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdikpora Bangli, Jro Widata, Minggu (19/09/2021) mengungkapkan jika sekolah  di Bangli sudah siap melaksanakan PTM terbatas. Namun , pihaknya masih menunggu kebijakan dari pimpinan, dalam hal ini surat edaran (SE) dari Gubernur Bali.

“Dari SE Gubernur Bali ini, nanti dibuat turunannya, menjadi SE Bupati, hingga petunjuk teknis pelaksanaannya dari kita (Disdikpora Bangli-red),” ujarnya.

Jro Widata mengatakan, sejatinya pada bulan Januari 2021 Bangli sempat menggelar PTM, walaupun hanya berjalan sepekan. Karenanya untuk kembali melaksanakan PTM, diperlukan pemutakhiran berupa surat pernyataan kepala sekolah, pernyataan dari komite, serta izin dari orang tua.

“Jadi untuk pelaksanaan PTM terbatas ini, peserta didik wajib mendapatkan izin dari orang tua. Sebagaimana tercantum dalam SKB empat Menteri,” jelasnya.

Dibalik kesiapan sekolah berupa surat pernyataan, Jro Widata menegaskan dalam pelaksanaan PTM terbatas juga harus melihat potensi di masing-masing sekolah. Seperti sarana dan prasarana protokol kesehatan, hingga capaian vaksinasi untuk tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

“Kami sudah melaksanakan rapat dengan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) dan perangkat lainnya, untuk membahas persiapan-persiapan itu pada tanggal 10 September. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, satu hingga dua pekan kedepan, sudah bisa berjalan PTM terbatas,” harapnya.

Dikatakan pula, dalam Inmendagri 42/2021 sekolah yang menyelenggarakan PTM terbatas dilaksakan dengan kapasitas maksimal 50 persen. Kecuali untuk sekolah luar biasa baik itu SDLB, MILB, SMPLB, SMALB, dan MALB yang kapasitas maksimalnya 65 persen.

“Begitupun dengan PAUD, maksimalnya hanya 33 persen, dengan jarak minimal 1,5 meter,” ucapnya.

Lebih lanjut diterangkan, kapasitas 50 persen tersebut berlaku untuk sekolah regular. Sehingga dalam setiap proses belajar mengajar (PBM), diberlakukan dua metode, yakni daring dan tatap muka. Sedangkan untuk waktu pelaksanaannya hanya dilaksanakan selama tiga jam penuh.

“Jadi hanya setengah dari jadwal normal enam jam. Dalam PTM terbatas juga tidak ada istirahat keluar kelas, hanya di dalam kelas. Dan setiap hari, mata pelajaran (mapel) yang diberikan bisa dua hingga tiga mapel, tergantung dari jumlah jam per mapelnya. Yang jelas satu mapel itu dapat pertemuan sekali,” ujarnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kabag Kesra Setda Bangli itu menambahkan, dalam pelaksanaan PTM terbatas sekolah wajib berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 desa. Apabila nantinya ada warga sekolah yang positif terpapar covid-19, misalnya guru atau siswanya, maka sekolah akan tutup selama tiga hari. “Tujuannya untuk sterilisasi. Karenanya dalam hal ini sekolah harus selalu sedia desinfektan,” tegasnya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00