Masyarakat Sekitar Danau Batur Mulai Keluhkan Limbah Bangkai Ikan

Masyarakat sekitar Danau Batur mulai keluhkan bau menyengat dari bangkai ikan akibat semburan belerang

KBRN, Bangli : Pasca semburan belerang yang terjadi di kawasan Danau Batur, Kintamani mulai menimbulkan persoalan baru. Selain mengancam ekosistem dan pencemaran di danau terbesar di Bali ini, masyarakat setempat juga mulai mengeluhkan bau busuk yang menyengat akibat banyaknya kematian ikan yang belum bisa dibersihkan.

Keluhan tersebut mulai mencuat setelah ada pengaduan masyarakat melalui facebook di group ‘Pengaduan 24 Jam Era Baru’, Kamis (29/07/2021).

Dalam postingan yang dibagikan akun Bagaskara Putra, meminta Pemkab Bangli segera melakukan atensi terkait banyaknya limbah bangkai ikan yang terdampar di bibir danau Batur.

“Mohon ijin menyampaikan keluh kesah tentang limbah ikan di Danau Batur. Tepatnya di Desa Terunyan pak. Tolong solusinya secepatnya, karena limbah ikannya sangat meresahkan dan berbau menyengat,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengaduan terkait persoalan bangkai ikan tersebut.

“Kami dari dinas bersama masyarakat sudah berusaha mengevakuasi bangkai ikan yang sudah kita lakukan sejak tanggal 17 Juli lalu. Sekitar 26 ton bangkai ikan sudah kami angkut ke kebun petani di Desa Pengotan. Kesulitan kami hari ini karena tidak ada tempat pembuangan atau penampungan,” ujarnya.

Karena itu, Sarma mengaku sudah mengedukasi masyarakat untuk mengubur bangkai ikannya dilahan-lahan sekitar danau.

“Permasalahan lahan untuk menampung dan mengolah ikan mati menjadi pupuk di Desa Pengotan kapasitasnya sudah tidak muat lagi. Sampai saat ini, belum ada tempat yang menerima ikan mati tersebut. Untuk langkah cepat dan antisipasi pencemaran alangkah baiknya limbah ikan mati ini diolah menjadi pupuk atau ditanam (dikubur) di lahan pesisir danau,” jelasnya.

Disampaikan, pihaknya cukup kewalahan menanggulangi banyaknya bangkai ikan tersebut lantaran fenomona semburan belarang kali ini terbilang yang paling parah.

“Fenomena yang terjadi ini, termasuk semburan terbesar dan lama. Biasanya hanya 4-6 hari selesai. Dampaknya pun hanya di Kedisan dan Buahan. Namun kali ini, terjadi sampai dua tahap dalam satu bulan,” jelasnya.

Lanjut Sarma, setelah tahap satu di Seked, Kedisan dan Buahan sejak tanggal 14 Juli sampai 19 Juli lalu, semburan belerang tahap dua justru kembali muncul di Songan sejak tanggal 23 Juli-26 Juli. Lebih parah lagi, saat ini, semburan belerang juga masih terjadi.

“Semburan masih terjadi, ditandai warna air keputihan dan bau belerang. Angin juga masih bertiup kencang,” jelasnya.

Akibatnya, wilayah yang terdampak juga semakin luas. Kematian ikan tidak hanya terjadi pada ikan yang dibudidayakan dengan system Keramba Jaring Apung.

“Ikan liar juga banyak yang mati. Bangkainya menyebar karena terbawa arus air, sehingga berdampak juga sampai ke wilayah desa Terunyan” sebutnya.

Karena itu, pihaknya mengaku kesulitan melakukan upaya evakuasi bangkai ikan liar tersebut. Meski demikian, pihaknya akan tetap berupaya untuk bisa segera menanggulangi persoalan limbah bangkai ikan tersebut agar tidak menyebabkan pencemaran air danau.

“Besok kita akan turun lagi coba atasi dengan menggunakan dekomposer yang dicampur dengan dedak. Cuman memang diperlukan lahan untuk tempat mengolah,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00