BPOM Denpasar Sidak Pedagang Takjil dan Pasar Sengol Bangli

KBRN, Bangli : Jelang hari Raya Idul Fitri, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Denpasar, kian menggencarkan sidak atau pengawasan makanan dan minuman berbuka puasa atau takjil di kabupaten/kota di Bali. Tujuannya untuk melindungi masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang mengandung zat-zak berbahaya, seperti zat pewarna, borak maupun permalin untuk pengawet. 

Untuk operasi pengawasan di Kabupaten Bangli, BPOM Denpasar melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangli, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, Senin (10/05/2021).

Sidak dipimpin langsung Kepala BPOM Denpasar, Dra. Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih. Sasarannya, mulai dari pedagang di Pasar Sengol di Loka Srana hingga sejumlah pedagang takjil di kawasan LC. Uma Aya.

“Ada sekitar 18 sampel berbagai jenis makanan dan minuman telah kita ambil untuk diuji klinis dari pedagang di pasar Sengol dan sejumlah pedagang  takjil di Bangli,” jelasnya. 

Hasilnya, disebutkan Gusti Suarningsih, secara umum tidak ditemukan adanya olahan makanan maupun minuman yang mengandung unsur-unsur berbahaya. 

“Kita hanya menemukan masih ada sejumlah pedagang di Pasar Sengol yang masih menggunakan tangan secara langsung untuk  mengambil olahan makanan yang dijualnya,” bebernya.

Dalam hal ini, BPOM Denpasar  menekankan, kebersihan dalam menjual makanan agar lebih diperhatikan para pedagang.

Agar makanan higienis, produk makanan yang dijual sebaiknya ditaruh didalam tempat tertutup. Ini untuk melindungi debu. Selanjutnya, cara mengambil makanan agar menggunakan alat penjepit. Ini masih minim diperhatikan oleh pedagang. Padahal alat itu, bisa  untuk meminimalis kontaminasi mikro bakteri pada makanan yang dijual pedagang dengan tangan,” tandas Gusti Suarningsih. 

Tindak lanjut dari itu, upaya untuk melakukan pengawasan produk olahan pangan akan tetap dilakukan secara rutin.

“Pengawasan rutin kita lakukan sebagai upaya untuk melindungi masyarakat. Sebab, pada saat bulan Ramadhan seperti ini biasanya banyak muncul pedagang-pedagang dadakan yang menjual makanan dengan banyak variasi dan jenis sehingga memerlukan perhatian lebih dari pemerintah,” ungkapnya.

Disamping itu, BPOM juga mengaku telah melakukan pengawasan sarana distribusi pangan.  Untuk makanan dalam kemasan, pengecekan dilakukan untuk mengawasi masa kadaluarsa, label dan kelayakan kemasannya. 

Selain itu, BPOM juga mendorong UMKM untuk bisa menghasilkan produk berkualitas, memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.

“Kita juga mengajak pelaku usaha untuk senantiasa mentaati peraturan yang berlaku dengan tidak menggunakan bahan-bahan yang dilarang seperti pewarna kertas, borax dan formalin,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00