Harga Jual Bunga Pecah Seribu Murah Meriah, Petani Bunga Menjerit

Harga jual bunga pecah seribu murah meriah, petani bunga menjerit

KBRN, Singaraja : Pandemi Covid-19 ternyata berdampak langsung pada para petani bunga. Diantaranya adalah petani bunga pecah seribu atau bunga pelung.

Bunga pelung merupakan sarana utama dalam pembuatan canang untuk upacara persembahyangan bagi umat Hindu yang biasanya dijual para pedagang canang di pasar-pasar tradisional. Bunga ini hanya bisa tumbuh di Dusun Asah Gobleg, Desa Wanagiri dan Dusun Tamblingan.

Petani bunga pelung di Dusun Tamblingan, Luh Risma (30) mengeluhkan harga bunga pecah seribu atau bunga pelung yang belakangan ini sangat murah.

Risma yang profesi utamanya menanam bunga pecah mengaku hasil bertaninya selama ini mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Namun sejak merebaknya virus corona dengan pembatasan kegiatan upacara agama, berdampak langsung terhadap kelangsungan mata pencaharian keluarganya.

Dengan pembatasan kegiatan masyarakat, khususnya upacara agama Hindu, bunga pelung ini pun tidak laku lantaran kebutuhan atau permintaan bunga menurun. Sebelum pandemi, saat hari raya besar seperti jelang Galungan dan Kuningan bunga pecah seribu bisa dijual Rp40.000 sampai Rp.50.000 untuk dua kresek atau 8 kilogram.

Memang diakui Risma bahwa harga bunga pecah seribu sudah turun sebelum pandemi. Begitu pandemi, harga semakin terpuruk, dan pembeli tidak ada.

“Harga bunga 5000 sampai 7000, stoknya banyak. Yang beli enggak ada,” ucapnya, Selasa (13/4/2021).

Nyoman Netra (50) seorang pengepul bunga pelung menuturkan, anjloknya harga bunga pelung saat ini dikarenakan semakin tingginya biaya transportasi serta retribusi pasar seperti sewa tempat dan uang kebersihan. Netra membeli bunga pelung di petani dengan harga Rp5.000 sampai Rp7.000 per kilogram, sedangkan di pasara, bunga pelung tersebut bisa terjual dengan harga Rp10.000 sampai Rp12.000 per kilogram.

“Kita bisa menjual 10 ribu itu sudah pas-pasan, sudah minim sekali,” tutur Netra.

Para pedagang bunga seperti Luh Risma dan Nyoman Netra berharap agar pandemi cepat berlalu dan harga bunga untuk keperluan upacara agama bisa kembali ke harga semula.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00