Bukti Sayang Bukan Dengan Seks

Ni Nyoman Ari Indra Dewi, M.Psi., Psikolog.

KBRN, Singaraja: Masa remaja adalah salah satu fase perkembangan dalam kehidupan manusia. Ciri yang menonjol pada masa ini adalah terjadi perubahan fisik yang sangat signifkan, misalnya pada wanita terjadi menstruasi, dada membesar. sementara pada pria terjadi perubahan suara dan pertumbuhan jakun. Perubahan fisik ini juga disertai dengan ketidakstabilan hormon yang juga berdampak pada ketidakstabilan emosi. Masa remaja juga identik dengan ketertarikan atau naksir dengan lawan jenis, dan mencoba berpacaran.

Psikolog Ni Nyoman Ari Indra Dewi, M.Psi mengatakan, berpacaran pada remaja adalah hal wajar. Namun, jangan sampai melibatkan emosi terlalu dalam dan harus mampu membedakan antara rasa sayang dan nafsu.

“Untuk berpacaran adalah hal wajar karena mulai belajar menjalin relasi dengan lawan jenis, tetapi ini cuma pacaran yang cinta monyet, bukan serius, tidak melibatkan emosi terlalu dalam, karena jika melibatkan emosi yang terlalu dalam, mudah diperalat oleh pasangannya. Itulah kita harus bisa membedakan rasa sayang dan nafsu.” tuturnya saat mengisi dialog di Pro 2 RRI Singaraja, Kamis (23/6/2022).

Wanita yang berasal dari Jembrana ini menambahkan, fenomena dan penelitian saat ini menemukan, perilaku seks bebas pada remaja semakin mengkhawatirkan. Remaja tidak sungkan lagi untuk mengajak pasangannya untuk melakukan hubungan seksual di luar nikah. Melakukan hubungan seksual dianggap sudah lumrah dan biasa saja karena sebagai bukti tanda cinta, seakan hidup hanya untuk pasangan (cinta buta), kadang sebagai kebanggaan dan gengsi dikalangan teman-temannya dan takut dikucilkan dalam pergaulan.

“Sama halnya seperti merokok, kalau tidak melakukan hubungan seks katanya tidak gaul, cemen, bahkan menjadi kebanggan sendiri jika sudah melakukannya.” imbuhnya.

Psikolog yang juga menjadi dosen Prodi Psikologi di Universitas Dhyana Pura ini menuturkan, dampak dari perilaku seks bebas adalah kehamilan yang tidak diinginkan, kehilangan masa remaja, menikah karena terlanjur hamil, tidak dapat menikmati masa remaja sepenuhnya karena beban tanggungjawab menjadi orang tua terlalu dini bahkan tidak siap untuk menjalankan fungsi sebagai orang tua.

Oleh karena itu sebaiknya remaja menerapkan gaya berpacaran sehat dan bertanggungjawab yang dapat mendorong prestasi sekolah dan yang penting tidak melibatkan aktivitas seksual.

Psikolog yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini menekankan waspada dalam memilih teman bergaul agar tidak terjerumus dalam perilaku seks bebas.

“Tiga hal penting dalam berpacaran sehat adalah jangan melibatkan emosi dan perasaan terlalu dalam, karena ketika emosi terlalu dalam remaja akan sangat bergantung dan mudah dikontrol diperalat dengan pasangan dan kehilangan kontrol terhadap diri sendiri, hindari terlibat pada hubungan seks pada masa pacaran, dan berhati-hati memilih teman sebaya karena perilaku seks bebas kerap terjadi karena pengaruh pergaulan sosial,” ucapnya.

Ibu dua anak ini mengharapkan agar keluarga khususnya orang tua perlu melakukan komunikasi terbuka dengan remaja, mengenalkan apa-apa saja yang terjadi pada masa remaja dan berdiskusi tentang sebab akibat yang akan terjadi terhadap permasalahan tersebut khususnya tentang masa berpacaran.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar