Layanan Kesehatan Berbasis 'Sampah'

Poskesdes Desa Tembok

KBRN, Singaraja : Desa Tembok yang berada di ujung timur Kabupaten Buleleng, Bali, merupakan satu-satunya desa yang ada di Kabupaten Buleleng yang berhasil melakukan inovasi di bidang layanan kesehatan yang mengintegrasikan program layanan kesehatan dengan upaya sanitasi lingkungan desa.

Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang ada di Desa Tembok memberikan berbagai layanan kesehatan yang bisa diakses warga desa dengan memanfaatkan Jaminan Kesehatan Desa (JKD) berupa sampah plastik yang disetorkan ke bank sampah Desa Tembok. Inovasi inilah yang menghantarkan Poskesdes Desa Tembok berhasil meraih penghargaan Top 45 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2021 Klaster Kabupaten yang digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) RI.

Perbekel Desa Tembok Dewa Yudi Astra memaparkan, Pokesdes di desa tembok didirikan pada tahun 2018. Pada awalnya pendirian Poskesdes didasari keinginan untuk membantu warga karena kesulitan mengakses fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat I yang berada di Desa Tejakula yang jaraknya sekitar 11 kilometer sehingga masyarakat yang memiliki BPJS Kesehatan atau KIS tidak dapat memanfaatkan benefit dari jaminan kesehatan dan akhirnya memilih memeriksakan diri ke tenaga kesehatan yang terdekat seperti bidan atau dokter umum. Dan tentu ini menambah beban masyarakat selain membayar iuran BPJS Kesehatan, mereka juga harus membayar biaya berobat ke tenaga kesehatan diluar faskes tertanggung.

Berbagai inovasi dan program terus dikembangkan mulai dari peningkatan layanan kesehatan hingga program Jaminan Kesehatan Desa (JKD) yang bertujuan mengcover segala kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan. Seluruh warga desa Tembok bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di poskesdes mulai dari pemeriksaan kesehatan pasien umum hingga melahirkan, home care, fasilitas ambulans jika mengharuskan pasien dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Tinggi Pratama (FKTP) atau rumah sakit, antar jemput kontrol ke rumah sakit hingga penjemputan jenazah warga dengan menggunakan dengan menggunakan JKD.

Menariknya, JKD yang diterapkan di Desa Tembok disinergikan dengan program lingkungan, salah satunya pengelolaan sampah.

“Program JKD di Desa Tembok bisa saya bahasakan sebagai asuransi kesehatan lingkup desa yang hanya berlaku untuk masyarakat desa Tembok yang ingin berobat atau memeriksakan diri dan memperoleh pelayanan kesehatan di Poskesdes Desa Tembok. Dimana premi asuransinya bukan berupa uang tetapi preminya dibayar warga dengan komitmen memilah dan menyetorkan sampah ke Bank Sampah. Sedangkan manfaatnya mereka dapatkan dalam bentuk layanan kesehatan,” jelasnya.

Salah seorang bidan bernama Ni Luh Ari Widayanti (26) saat ditemui Jumat (26/11/2021) siang menuturkan, di awal berdirinya Poskesdes belum dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat, bahkan kadang tanpa pengunjung sama sekali.

“Awalnya pasiennya rata-rata masih sedikit. Kebetulan secara bertahap naik dari yang tidak ada menjadi 100 orang saja terus bertambah menjadi 200, 300 dan setelah berlakunya JKD ini banyak yang merasakan manfaatnya. Hampir 700 orang rata-rata perbulannya,” ungkapnya  

Dari sekian banyaknya warga yang memeriksakan kesehatannya, keluhan yang paling banyak diderita warga adalah penyakit arthtritis (radang sendi), gatal, hipertensi, diabetes, dan kontrol rutin.  

Putu Linayanti (26) salah seorang warga desa Tembok yang sudah merasakan manfaat layanan kesehatan poskesdes mengatakan sangat terbantu sekali apalagi di masa pandemi seperti saat ini.

“Membantu sekali ya apalagi di masa pandemi ini kan memang susah sekali pemasukannya. Dari kita sakit biasanya kalau cek ke dokter umum itu 50rb biasanya bayar. Kalau kita ikut bank sampah kita dapat jaminan kesehatan gratis jadinya sakit apapun bisa periksa ke poskesdes tanpa berbayar,” ujarnya.

Manfaat Poskesdes yang diintegrasikan dengan JKD juga sangat dirasakan oleh warga lainnya bernama Ketut Dewa Willy Asmawan. Selain meringankan beban warga terkait dengan biaya kesehatan sekaligus menjadi cara agar warga ikut menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan.

“Jadi sangat bagus. Satu dari segi lingkungan ini akan menjadi bersih. Yang kedua manfaat kesehatan yang diberikan desa sangat bermanfaat bagi warga. Nah sekarang kita menjaga komitmen dari warga untuk terus ikut memilah sampah dari sumber, ikut menabung sampahnya di bank sampah sehingga dapat layanan kesehatan gratis di Poskesdes,” ungkapnya.

Hingga saat ini saat ini upaya pengembangan Poskesdes sedang dilakukan untuk menjadi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sehingga poskesdes bisa menjadi rujukan bagi warga yang ingin mendapatkan berbagai layanan kesehatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar