Pukat Trawl Dituding Penyebab Pengangguran Nelayan di Sibolga

KBRN, Sibolga : Nelayan kecil di Kota Sibolga, kembali mengeluhkan kapal pukat trawl yang masih beroperasi di perairan Pantai Barat Sumatera.

Bahkan kapal pengguna alat tangkap ikan ilegal itu, dituding menjadi penyebab persoalan pengangguran di kalangan nelayan kecil.

Seperti pengakuan Taslim Siregar, pekerjaannya menangkap ikan tidak lagi bisa dipertahankan.

Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia terpaksa beralih profesi sebagai penarik becak bermotor.

"Sebelumnya, penghasilan kami nelayan kecil masih lumayan. Setelah ada pukat trawl, semua ikan dan karang habis dibuatnya.

"Kalau sekarang saya terpaksa narik becak, bagaimanalah caranya bisa menutupi biaya makan dan sekolah anak-anak," kata Taslim, ditemui di kawasan Jalan Midin, Kamis (7/8/2020).

Pria berumur 54 tahun itu juga menceritakan, pernah terjadi konflik serius antara nelayan kecil dengan nelayan alat tangkap pukat trawl.

Dikarenakan, nelayan kecil merasa Pemerintah Daerah beserta aparat penegak hukum (Gakkum) perikanan di Sibolga terkesan melakukan pembiaran.

"Kami pernah perang dengan mereka (kelompok nelayan kapal pukat trawl) sekitar Tahun 2020, dan mereka sempat berhenti beroperasi selama setahun. Tapi setelah itu, mereka beroperasi lagi sampai sekarang ini," tuturnya.

Pekerjaan menarik becak juga dilakoni Rasidin Tamba, yang dulunya pernah bergantung hidup dari hasil menangkap ikan di pinggiran.

Namun diakibatkan ulah pukat trawl, pria setengah abad itu mengambil keputusan untuk berhenti melaut.

"Saya bekerja sebagai nelayan itu sudah lebih kurang selama 20 tahun. Tapi sekarang, hasil laut menurun drastis dari sebelumnya," keluhnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00