Kerinduan Haji yang Tertunda

KBRN, Sibolga: Nurhalila Dame Hutasuhut dan suaminya Ararat Buchari Koto, warga Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Pasar Belakang, Kota Sibolga, adalah jamaah calon haji yang ditunda kebertangkatannya untuk melaksanakan rukun Islam kelima pada musim haji tahun 2022.

Pasangan suami istri ini seakan tak percaya bila impian mereka menginjakkan kaki ke tanah suci Mekah masih menggantung disebabkan adanya aturan pembatasan usia oleh Pemerintah Arab Saudi.

“Sudah apalah (persiapan diri) yang mau naik haji ini, kan. Tau-tau, tahun 2020 ditunda berangkat karena Covid. Tapi, sudahlah, bukannya aku sendiri, pikirku. Tahun 2021 kebakaran rumah kami, habis semuanya. Untuk keperluan haji pun habis semua, tak ada tersisa. Ternyata tahun itu juga gagal berangkat haji. Tapi, ini sakit sekali rasanya. Kawan-kawan yang biasa manasik haji, ternyata mereka berangkat, saya tidak. Berpikir jugalah aku sambil sembahyang, cobaan apalah ini Ya Allah. Sudahlah rumah habis terbakar, naik haji pun tak jadi. Mungkin ini yang terbaik bagi kami,”ungkap Nurhalila di rumahnya.

Sebenarnya, bukan saja bu Nurhalila dan pak Ararat merasakan dampak aturan baru penyelenggaraan haji dengan alasan situasi pandemi. Melainkan ada belasan jamaah lansia lainnya asal Sibolga yang bernasib sama.

“Berbicara tentang kuota Haji Kota Sibolga awalnya 44 orang. Akan tetapi, setelah adanya pengumuman dari pusat (Kementerian Agama RI) bahwa ada pembatasan usia jamaah haji yaitu 65 tahun ke bawah. Setelah disampaikan pengumuman (kepada jamaah calon haji asal Sibolga) itu, ternyata total yang berangkat haji 22 orang dan ditambah cadangan 3 orang. Kenapa terjadai penciutan, karna ada usia suami (Jamaah calon haji) yang tidak memenuhi syarat, istrinya istrinya pun tidak mau berangkat haji, menunggu keputusan baru untuk bisa sama-sama berangkat. Kemudian, ada jamaah yang gak sabar menunggu pandemi covid berakhir. Sehingga, uang (ongkos haji) yang ia tanam, ditarik,” terang Kepala Kantor Kementerian Agama Sibolga, Bahrum Saleh.

Nurhalilah yang kini sudah berumur 66 tahun, dan suaminya Ararat 69 tahun, masih merindukan panggilan haji meski tak tahu pasti kapan larangan itu akan berakhir.

“Mudah-mudahan berubahlah peraturan ini. Kami berselalu berdoa biar sampai jugalah kami ke (Mekah) sana. Ya Allah Ya Tuhan, janganlah panggil (ajal) aku dulu sebelum kutunaikan rukum Islam yang kelima Ya Allah. Itu saja doaku. Datangpun kawa-kawan yang menyarankan “tarik sajalah uang (dana haji) mu itu, pergi kau umroh”, tidak, kata saya. Biarlah kapanpun kutunggu sampai aku dipanggil (menunaikan haji) nanti. Semoga saja diberi kesehatan sampai tiba waktunya,”ucap Nurhalila.

Nurhalila menyadari bahwa ia sebagai makhluk hanya bisa berencana, karena segalanya kembali kepada Allah sang pemilik takdir. Namun, ia berharap waktunya ke Baitullah akan segera tiba sebelum ajal mendahului.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar