Koperasi Pembudi Daya Sidat Cilacap Bangkit Ditengah Pandemi 

KBRN, Cilacap : Usaha budidaya sidat mengalami pukulan keras selama pagebluk Covid-19. Pasar utama untuk sidat (Anguilla sp) yang juga dikenal sebagai unagi, adalah Jepang, sementara permintaan pasar domestik masih sangat terbatas.  

Pandemi berkepanjangan menyebabkan ekspor sidat Indonesia ke Jepang terhenti, hingga permintaan turun secara drastis. Di seluruh Indonesia, usaha sidat skala besar dan kecil bertumbangan, benih sidat hampir tidak ada harganya, sementara sidat ukuran konsumsi tidak memperoleh harga yang sesuai di pasar. Namun, satu koperasi dari Cilacap berhasil bertahan selama pagebluk dan bahkan berkembang lebih pesat dari sebelumnya.  

“Lima bulan pertama COVID-19 adalah masa tersulit bagi kooperasi kami, tidak ada pesanan sama sekali. Kami tidak bisa menjual sidat ke Jepang, banyak restoran dan hotel di Indonesia juga tutup. Sejumlah aset terpaksa kami jual,” ungkap Ruddy Sutomo, pendiri Koperasi Mina Sidat Bersatu di Desa Kaliwungu, Kabupaten Cilacap.  

Ruddy dan anggota koperasi lainnya harus melakukan sejumlah penyesuaian untuk bertahan, tanpa mengkompromikan kualitas sidat yang mereka budi dayakan. Kerja keras dan komitmen kuat mereka untuk fokus pada kualitas produk terbayar saat pembatasan Covid-19 mulai dikurangi. Restoran Jepang kelas atas dan pembeli dari Jepang telah kembali memesan sidat secara reguler.  

“Kami sampai kesulitan untuk memenuhi permintaan pembeli, karena saat ini kami tidak punya kapasitas yang cukup untuk memenuhi permintaan mereka,” lanjutnya dalam siaran pers yang diterima rri.co.id, Minggu (26/12/2021). Berbeda dengan usaha sidat lain di Indonesia yang masih kesulitan membangun kembali bisnis mereka, Koperasi Mina Sidat Bersatu bahkan memperluas bidang usaha dari yang dulunya hanya menyuplai sidat hidup, kini telah bisa memproduksi sidat siap makan yang telah bersertifikat BPOM dan halal dari Majelis Ulama Indonesia.  

Cerita ketangguhan para pembudi daya sidat di Cilacap ini menjadi focus utama dalam kunjungan Plt. DirJen Pengelolaan Ruang Laut KKP, Pamuji Lestari; Plt. Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kusdiantoro; dan Perwakilan FAO untuk Indonesia, Rajendra Aryal.  

Para pejabat tinggi tersebut mengunjungi lokasi budi daya Koperasi Mina Sidat Bersatu di Kampung Sidat Kaliwungu yang berlokasi di Kabupaten Cilacap. Kooperasi tersebut adalah salah satu kelompok yang memperoleh dampingan dari proyek IFish, sebuah kerja sama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dan the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), dengan dukungan pendanaan dari the Global Environment Facility (GEF)  

“Sidat adalah komoditas penting dari Kabupaten Cilacap yang perlu terus dikembangkan,” jelas Bupati Kabupaten Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji. Ia menyebutkan telah banyak peneliti dan pengusaha budi daya yang datang dari Jepang dan berbagai daerah lain ke Cilacap untuk mempelajari sidat, baik siklus hidupnya juga praktik perikanan terbaiknya.  

Salah satu lokasi terbaik untuk mempelajari budi daya sidat adalah Kampung Sidat Kaliwungu, lokasi Koperasi Mina Sidat Bersatu. Lokasi ini adalah lokasi demonstrasi pertama proyek FAO-IFish yang dimulai pada 2020.  

“Budi daya sidat membutuhkan keselarasan dan keseimbangan antara konservasi dan produksi, dengan landasan teknologi dan ilmu pengetahuan,”jelas Kusdiantoro. “Kami mengapresiasi kemampuan pembudi daya di Kampung Sidat Kaliwungu yang telah berhasil membuat pakan sidat secara mandiri. Kedepannya ahli sidat dari Pusat Riset Perikanan juga akan memberikan dampingan kepada pembudi daya di Cilacap, sebagaimana yang telah kami lakukan dengan proyek FAO-IFish di Kabupaten Sukabumi,” lanjutnya. 

Keseimbangan antara produksi dan konservasi sidat kembali ditekankan oleh Pamuji Lestari. “Sidat adalah salah satu komoditas yang benihnya saat ini hanya bisa diambil dari alam. Agar usaha budi daya sidat bisa terus berlangsung, nilai-nilai konservasi perlu menjadi pertimbangan. Saya menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Bupati Cilacap yang telah mengeluarkan peraturan daerah yang mengharuskan alokasi 2,5 persen dari hasil panen untuk dilepas liarkan kembali ke alam, agar sidat tetap lestari”. 

Kegiatan pelepas liaran menjadi salah satu bagian dari kunjungan bersama ke Kampung Sidat Kaliwungu. Sebelum dilepas liarkan, sidat diberi penanda untuk pemantauan ke depannya. Penyediaan sidat untuk dilepas liarkan ke alam adalah bagian dari komitmen koperasi pada pelestarian sidat.  

Rajendra Aryal menyampaikan apresiasi tingginya kepada para pihak yang bekerjasama untuk perikanan sidat lestari di Kampung Sidat Kaliwungu. “Apresiasi khusus bagi Koperasi Mina Sidat Bersatu, sebuah usaha budi daya skala kecil yang mampu berkembang dan bertahan di masa pandemi dengan produksi sidat kualitas tingginya. Kemampuan Koperasi Mina Sidat Bersatu dalam memformulasi pakan sidat, serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup sidat di fase kritis juga perlu menjadi pembelajaran bagi kita semua. Mari ambil kesempatan presidensi G20 untuk menunjukkan pada dunia perikanan berkelanjutan di Indonesia,” jelas Aryal. 

Kerangka strategis FAO mendukung pencapaian Agenda 2030, melalui transformasi sistem pertanian-pangan yang lebih efisien, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan; untuk produksi lebih baik, nutrisi lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan hidup yang lebih baik bagi semua. Dukungan kepada pembudi daya sidat skala kecil di Kampung Sidat Kaliwungu adalah contoh baik implementasi kerangka strategis FAO dalam kerangka pembangunan jangka menengah Indonesia. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar