Dewas, Pilih Direksi yang Mampu Terjemahkan Visi dan Misi RRI

Menarik pernyataan Ketua Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Penyiaran Publik (LPP), Radio Republik Indonesia (RRI) Anwar Mujahid Adhy Trisnanto, “Jangan Sampai RRI Jadi Fosil”. Menarik, karena kapasitas sebagai Ketua Dewas yang memiliki otoritas “Hidup dan Mati” bagi LPP RRI, sungguh sangat keras. Kami setuju, bahwa LPP RRI menjadi “fosil” sebuah keniscayaan, maka harus dikelola dengan paripurna.

Mujahid (72), mengaku jika dirinya mempunyai obsesi mengembalikan hingga memulihkan marwah RRI. Fatwa inilah mengisyaratkan harus berintegritas semua jajaran Dewas yang terdiri dari lima anggota Dewas  Anwar Mujahid Aditrisnanto (Unsur Masyarakat), Enderiman Butar Butar (Unsur Pemerintah), MM Rini Purwandari (Unsur Masyarakat), Mohammad Kusnaeni (Unsur Masyarakat), dan Muhammad Rohanudin (Unsur RRI), ketika memilih Dewan Direksi.

Mengapa Dewas ketika memilih jajaran Direksi perlu menekankan pada figur yang mampu menerjemahkan dan melaksanakan visi dan misi RRI? Sebagaimana diketahui, Dewas sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 Tahun 2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Radio Repupublik Indonesia, pasal 7 huruf C. melakukan uji kelayakan dan kepatutan secara terbuka terhadap calon anggota dewan direksi; D. mengangkat dan memberhentikan dewan direksi; E. menetapkan salah seorang anggota dewan direksi sebagai direktur utama; F. menetapkan pembagian tugas setiap direktur; 

Dengan kewenangan Dewas berdasarkan PP tersebut, sekaligus menjawab penyataan Ketua Dewas,  Anwar Mujahid Aditrisnanto, bahwa RRI jangan jadi “fosil” dan bertekad jika dirinya mempunyai obsesi mengembalikan hingga memulihkan marwah RRI. Dasar inilah Dewas ketika memilih jajaran Direksi harus mampu menjawab penyataan dan kegalauan Dewas yang direpresentasikan oleh Ketuanya.

Jangan jadi “fosil” dan obsesi mengembalikan hingga memulihkan marwah RRI, kiranya nyambung dengan materi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Komunikasi Pemerhati (FKP) LPP RRI, yang telah dilaksanakan 7 – 9 Oktober 2021, di Sentul Bogor dengan tema “Memperluas  Jangkauan Siaran Melalui RRI Multi Platform”. 

Lewat Direktur Produksi dan Pemberitaan, Soleman Yusuf, dengan jelas, terinci dan detail lengkap contoh – contohnya menggambarkan apa yang sudah dilakukan, apa yang sedang dilakukan dan apa yang akan dilakukan kedepan yang serba digital. Ini nyambung dengan tekad Dewas, dalam suatu kalimat yang sederhana, jangan sampai RRI menjadi dinosaurus yang memfosil tapi harus jadi macan yang bangun dari tidurnya. 

Untuk itu, kami sepakat kedepan RRI harus melakukan tranformasi digital mengikuti perkembangan zaman. Syaratnya seluruh jajaran direksi dan angkasawan angkasawati RRI dapat bersinergi untuk kemajuan instansinya sendiri. Bahkan lebih luas untuk Ibu Pertiwi. 

Masih di Pasal 7 huruf (F), Dewas menetapkan pembagian tugas setiap direktur. Ini sangat strategis, disamping sebagai dasar dan rujukan tidak ada overlap antar jajaran direksi. Karena RRI merupakan (awalnya) media dengar dan tuntutan jaman merambah apa yang didengar bisa ditonton, (menuju ke media dengar dan pandang),  core atau intinya di Produksi dan Pemberitaan, Dewas diharap menetapkan skala prioritas apa yang akan dibangun secara bertahap selama lima tahun kedepan.

Mengapa hal ini perlu? Karena memperluas jangkauan siaran melalui RRI Multi Platform, sungguh harus direncanakan dengan tahapan tahapan yang jelas, pertimbangannya, multi platform sanag banyak dan beragam memiliki konsekuensi. Untuk itu lima tahun kedepan Dewas memilih jajaran direksi tetap ada kesinambungan dan berkelanjutan. Tidak harus bongkar semua dewan direksi dan diganti yang baru. 

Berilah kesempatan dan dituntut untuk membuktikan. Sekali di udara tetap diudara.

(Drs Pudjo Rahayu Risan MSi

Anggota Dewan Penasehat FKP LPP RRI Pusat)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00