Hj. Rini Rahayu : Meneladani Perjuangan Siti Hajar

KBRN, Semarang : Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menjalani kehidupan di masa pandemik, kini saatnya kita memasuki tatanan kehidupan baru. Dampak yang timbul akibat COVID-19 cukup memprihatinkan. Tidak sedikit tenaga kerja yang dirumahkan, para pengusaha kolaps, petani peternak juga mengalami masa pailit. Menyikapi masa-masa sulit seperti saat ini, kita dapat belajar dari sosok Siti Hajar istri Nabi Ibrahim AS. Seorang istri yang tabah dan ikhlas dalam menghadapi beratnya perjuangan hidup. Hal tersebut disampaikan oleh Hj. Rini Rahayu, S.Ag.,M.M. dalam program Kultum Menjelang Maghrib RRI Semarang, Selasa (7/7/2020).

“Sebagai muslimah, jangan sampai kita hanya mengingat sosok Siti Hajar pada saat datangnya Idul Adha dengan mengenang penyembelihan Ismail AS yang dilakukan oleh sang ayah Ibrahim AS. Namun perilaku Siti Hajar laik bisa kita jadikan motivasi dan sumber inspirasi,” papar Hj. Rini Rahayu.

Ada 3 (tiga) sikap Siti Hajar yang patut diteladani, yakni :

1. Taat kepada Allah SWT

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori diterangkan bahwa saat ditinggal Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar hanya berdua dengan Si buah hati yang masih bayi, di sebuah gurun tandus tidak berpenghuni. Dia ridla dan ikhlas menjalani begitu mengetahui Nabi Ibrahim meninggalkan mereka karena perintah Allah, maka Siti Hajar sami’naa wa atho’naa. Menaati Allah sekaligus menaati suami yang amat dicintainya.

“Pertanyaannya sekarang, sebagai muslimah, sudahkah kita taat kepada Allah SWT?” ungkapnya.

Sebagai istri, hendaklah taat kepada suami apapun perintahnya, selama masih berada dalam batas syariat. Jangan memikirkan apa yang diperbuatnya terhadap kita, tapi pikirkanlah apa yang telah diberikan Allah dengan ditaqdirkannya menikah dengan kita. Bagi muslimah yang belum menikah, hendaknya yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan kehidupan di dunia ini. Yang penting percaya kepada Allah dan senantiasa taat kepadaNya.

2. Sabar dalam berjuang

Masih dalam riwayat yang sama, di tengah kebingungan, Hajar kemudian berlari ke

puncak bukit Shafa berharap melihat manusia yang dapat memberikan bantuan. Tidak dilihatnya seorangpun, lalu Hajar menuruni bukit sambil berlari-lari kecil menuju ke bukit Marwah, tetap saja tidak menjumpai manusia. Meski hampir putus asa, namun ia tetap memiliki keyakinan bahwa Allah akan menolongnya. Inilah yang perlu dicontoh.

“Dalam kehidupan sehari-hari, meskipun rizqi suami sulit, janganlah berubah pandangan terhadapnya dan jangan pernah mencacinya. Penderitaan yang kita alami belum sebanding dengan penderitaan Siti Hajar. Karena itu tetaplah mengasuh anak dengan baik, seperti apa yang dilakukan Siti Hajar. Yakinlah bahwa Allah akan memberi rizqi dan Allah tidak akan membiarkan hambaNya menderita,” sambungnya.

3. Tawakal dan bersyukur setelah berusaha

Saat Hajar berada di puncak Marwah untuk yang ketujuh kalinya, dia mendengar suara yang ternyata suara tersebut adalah seorang malaikat yang mengais tanah menggunakan tumitnya atau sayapnya, lalu memancarlah air dari tempat tersebut. Sambil berucap “zam...zam...,” Hajar dengan kedua tangannya mengumpulkan air dan membuat tampungan air. Tempat keluarnya air tersebut kemudian dikenal dengan sumur Zam-zam. Upaya Hajar mencari bantuan saat bolak-balik antara Shafa dan Marwah diabadikan dalam ibadah haji yang disebut sa’i.

Setelah taat kepada Allah, sabar dan bersungguh-sungguh dalam berjuang, maka yang harus dilakukan adalah tawakal dan bersyukur. Seperti yang dikerjakan Siti Hajar dengan wara-wiri dari bukit Shafa ke Marwah sebanyak tujuh kali, kemudian dia bertawakkal kepada Allah dan akhirnya Allah menurunkan pertolonganNya.

Mengakhiri Kultum Menjelang Maghrib di Pro 1 RRI Semarang Hj. Rini Rahayu menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani : “Sungguh Allah sangat senang jika salah satu diantara kalian melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh.” (sj)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00