Obyek Wisata Dibuka Kembali, Ini Kata Pengamat Sosial

KBRN, Semarang : Pandemi virus Korona merubah segalanya, pariwisata menjadi salah satu sektor yang luluh lantak diterjang badai Covid-19. Kendati sudah sepekan pariwisata di Semarang mulai beroperasi, tapi belum menunjukan geliatnya.

Animo masyarakat berkunjung ke sejumlah tempat wisata, sangat minim.

Pengamat Sosial Unika Soegijapranata Hermawan Pancasiwi mengatakan, grafik kasus Covid-19 di Jawa Tengah yang masih fluktuatif memicu kekhawatiran bagi wisatawan yang akan berkunjung ke destinasi wisata.

Hal itu membuat sektor pariwisata belum mampu menyambung hidup pelaku wisata yang berkecimpung didalamnya.

“Hampir semua sektor ekonomi, termasuk mal meski sudah dibuka tapi jumlah pengunjung masih sangat terbatas. Angkanya pun lebih kecil dari kuota yang diperbolehkan. Apalagi jumlah kasus harian Covid-19 masih naik turun, jadi masyarakat belum tau persis keadaan sudah aman atau belum,” jelas Hermawan kepada rri.co.id, Senin (23/8/2021).

Menurut dia, penyelenggaran pariwisata di masa pandemi harus menerapkan protokol kesehatan ketat. Selain itu edukasi bagi pengunjung perlu lebih diintensifkan agar kasus Covid-19 yang berangsur melandai dapat terus ditekan.

Selain itu, langkah preventif dan tindakan tegas bagi wisatawan yang kedapatan melanggar protokol kesehatan supaya menimbulkan efek jera.

“Dari Pemerintah Kabupaten atau Kota harus betul-betul mencermati, awal operasional itu pengunjung sepi tapi lama-lama orang akan semakin tau dan pasti akan menimbulkan kerumunan. Jadi berbagai elemen yang mengelola sektor wisata jangan sampai lengah,” ujarnya

Adaptasi usai di buka kembali dapat menciptakan warna baru bagi sektor pariwisata, meski sekarang tak dapat berbicara banyak. Namun, sektor pariwisata kedepan di prediksi dapat segera bangkit pasca porak poranda di sapu pandemi Covid-19.

Dengan demikian, keuntungan  bukan hanya di rasakan para pelaku wisata yang menggantungkan nasibnya di sektor pariwisata.  Namun juga masyarakat yang membutuhkan ketenangan jiwa guna melepas penat lantaran padatnya rutinitas.

Bagi mereka pecinta wisata mampu mendapat cita rasa baru melalui nuansa pariwisata  yang dikemas dengan inovasi berlandaskan penyesuaian protokol kesehatan dan tata kelola tempat wisata di era new normal.

“Melahirkan sesuatu yang baru karena dulu ada bisa ada karena penyesuaian tapi butuh proses. Karena daya beli masyarakat turun dan wisata menjadi kebutuhan sekunder bukan untuk pemenuhan kebutuhan pokok,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar