Himpun Dana Miliaran Rupiah, Bandar Arisan Fiktif Mengaku Kerja Sendirian

KBRN, Semarang : Aparat Reskrim Polres Salatiga menangkap bandar arisan fiktif yang mampu menghimpun dana senilai miliaran rupiah, dan telah merugikan banyak korban. Saat ini, tersangka, RA, warga Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga masih mengaku bekerja sendirian dalam melakukan tindak pidana tersebut.

Kapolres Salatiga AKBP Indra Mardiana mengatakan, kasus arisan fiktif bermula dari adanya laporan korban berinisial F, warga Kalibening, Kecamatan Tingkir, Salatiga karena merasa telah ditipu tersangka dengan kerugian Rp 71,3 juta.

Dari hasil keterangan korban dan hasil penyidikan di lapangan, ternyata korban dari bandar arisan fiktif itu cukup banyak. Sebab, total kerugian yang diderita para korban mencapai Rp 4,6 miliar.

Menurut Indra, tersangka RA ini telah menawarkan arisan online sejak Februari 2021 dan menjanjikan keuntungan dalam waktu dua pekan. Tercatat, jumlah korban yang melapor ada sembilan orang.

"Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa perkara yang ditangani Polres Salatiga terkait arisan online ini bisa melibatkan lebih dari satu (tersangka-red). Sementara, kami masih lakukan pengembangan lebih lanjut, hingga memang benar-benar terbukti bahwa yang bersangkutan melakukan tindak pidana," jelasnya.

Menurut dia, tindak pidana itu bisa penipuan atau penggelapan. Selain F, masih ada korban-korban lain dengan modus sama. Kurang lebih ada sembilan orang yang sementara didata, dan itu akan bergulir terus.

"Bisa saja bertambah, karena kejadian ini bukan hanya terjadi di wilayah Salatiga saja tapi di kota-kota lain juga terjadi dan modusnya hampir sama,” kata Indra.

Dia menjelaskan, selain menangkap tersangka, jajarannya juga mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga dibeli dari hasil menipu para korban. Beberapa barang bukti itu di antaranya adalah gawai, mobil, dan motor, serta barang-barang elektronik lainnya.

“Kami jerat tersangka dengan Pasal 372 dan Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan, ancaman hukumannya maksimal empat tahun penjara. Saat ini anggota juga masih mengembangkan kasus ini, karena tidak menutup kemungkinan ada tersangka baru dan jumlah korbannya bertambah,” tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00