Perusakan Makam di Surakarta, Enam Saksi Diperiksa

Walikota Solo Gibran Rakabuming didampingi lurah dan keluarga melihat langsung makam yang dirusak anak anak dibawah umur.

KBRN Surakarta : Kasus perusakan belasan makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cemoro Kembar, Kampung Kenteng, Kelurahan Mojo Pasarkliwon Surakarta oleh puluhan anak-anak Taman Pendidikan Agama (TPA) akhirnya berbuntut panjang. 

Kendati sudah diselesaikan secara kekeluargaan, pihak kepolisian tetap melanjutkan pengusutan kasus tersebut. Hal itu karena mengarah ke tindakan intoleransi, mengingat makam yang dirusak milik warga Nasrani. 

Kapolresta Surakarta Kombespol Ade Safri Simanjuntak mengatakan, penyidik Polresta terus melakukan penyidikan dan penyelidikan memperjelas duduk perkara dan fakta hukum dalam peristiwa tersebut. Setidaknya enam orang sudah dimintai keterangan terkait perusakan makam. Baik dari pengasuh taman pendidikan agama, maupun warga saksi dari peristiwa pengrusakan nisan makam itu. 

"Kami sudah melakukan pemeriksaan beberapa saksi, baik saksi korban maupun pengasuh kuttab (Lembaga pendidikan dasar pertama agama Islam) yang melakukan pengrusakan makam," jelasnya, Selasa (22/6/2022).

Ade Safri menegaskan, tidak boleh ada intoleransi di Kota Surakarta dalam bentuk apapun. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan agama agar masyarakat setempat tidak terprovokasi atas rusaknya belasan makam itu.

"Kami sama-sama bergandengan tangan toleransi harus terus hidup dan ditegakkan di Surakarta. Tidak boleh ada tindakan intoleran, kami melaksanakan koordinasi dengan Kemenag. Dengan tokoh agama masyarakat dan pak RT agar warga mengikuti proses hukum yang kami lakukan," tandasnya.

Di sisi lain Kapolres mengaku akan berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Surakarta untuk melakukan assessment. Terkait materi pembelajaran yang selama ini diajarkan Kuttab atau taman pendidikan agama yang tak jauh dari lokasi pemakaman.

Kemenag harus meluruskan ajaran agama agar bibit intoleransi ini tidak berkembang. "Kami ingin mendudukkan masalah ini sebenar-benarnya. Hasil dari assessment untuk merekomendasikan 39 siswa di sana untuk dilakukan konseling. Mengembalikan pada ajaran yang disyariatkan agama dan tidak melenceng," kata Ade.

Di sisi lain menurut Ade Safri, elemen masyarakat bersama keluarga dan warga setempat sepakat akan memperbaiki makam yang rusak. Hasil mediasi keluarga yang dirugikan dengan pihak Kuttab menghasilkan kesepakatan kerusakan akan diperbaiki.

"Besok jam 8 kita sama sama element masyarakat untuk memperbaiki makam yang dirusak. Kita sama sama bergandengan tangan bahwa toleransi harus hidup. 

Diberitakan sebelumnya, diduga ada 10 anak di bawah umur yang melakukan intoleransi dengan melakukan tindakan tidak terpuji merusak makam di TPU Cemoro Kembar Kelurahan Mojo, Solo.Lurah Mojo Margono melaporkan, peristiwa tersebut terjadi Rabu 16 Juni lalu pada pukul 15.00 WIB. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00