Masuk IGD Antre, Rumah Sakit di Solo Dirikan Tenda Darurat

KBRN,Surakarta: Beberapa Rumah Sakit di Kota Solo menambah kapasitas ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), seiring banyaknya rujukan pasien Covid-19 rujukan dari daerah sekitar. 

Pantauan RRI Rumah Sakit dr Moewardi RSDM Solo telah sepekan terakhir menambah tenda darurat. Dua tenda darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) didirikan di halaman gedung RSDM.

Salah satu dari dua tenda itu digunakan untuk menampung sementara pasien rujukan. Kemudian Hermina juga mendirikan tenda di depan rumah sakit. 

Direktur RSDM Solo, dr Cahyono Hadi, mengatakan kondisi ruang isolasi maupun ICU Covid-19 sebanyak 320an unit penuh. Mereka yang sudah dirujuk ke RSDM tak dapat ditolak, karena terjadi antrean masuk IGD maka harus ada tenda di luar ruangan. 

Mereka juga harus dirawat sementara di tenda darurat sebelum mendapatkan ruang perawatan.

 “Sebelum dibawa ke ruang isolasi, mereka kan harus screening dahulu di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Covid-19. IGD juga masih mengantri ruang yang kosong dulu, makanya pasien rujukan untuk sementara di tenda darurat. Kami enggak akan menolak pasien, jadi mereka antri masuk,” katanya  Jumat (25/6/2021).

Cahyono mengatakan, semula pihaknya hanya mendirikan satu tenda darurat, kemudian ditambah satu lagi. Tenda satunya digunakan untuk mengambil sampel swab pasien Covid-19 sebagai screening awal.

Biasanya, pasien mengantri selama satu hari di tenda darurat itu untuk kemudian dipindahkan ke ruang isolasi.

Informasi yang dihimpun dari DKK Surakarta, Bed Occupancy Rate (BOR) sudah 92 persen dari total 983 tempat tidur. Posisi saat ini sudah melebihi kondisi parah pada Januari Februari lalu dengan 880 tempat tidur. 

Wali Kota Solo, GIbran Rakabuming Raka, mengatakan tidak boleh ada penolakan pasien, namun tingkat keterisian tempat tidur isolasi Covid-19 memang tinggi. Kadang ada pasien yang gejalanya sudah berat, diantar keluarganya pakai mobil pribadi membuat RS kewalahan.

"Sehingga, RS yang tidak mendapatkan pemberitahuan atau rujukan sebelumnya merasa kewalahan. 

Kepala Dinas Kesehatan Surakarta dr Siti Wahyuningsih meminta daerah di Solo Raya juga menambah kapasitas bed rumah sakit, dan memperbaiki sistem rujukan. Agar tidak ada lagi pasien dirujuk oleh keluarga ke IGD tanpa ambulans. 

Ning meminta masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan dan tidak abai karena kasus terus melonjak. Selain memakai masker, cuci tangan pakai sabun jaga jarak dan menunda bepergian untuk mengerem lonjakan ini. 

"Kalau tambah bed terus kapan selesainya. Yang penting ya ada dukungan masyarakat dengan melakukan Prokes 5 M," katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00