LBH Rupadi Menilai di Sidang Perdana Ancaman Hukum Kasus Viral Pemukul Perawat Tak Tepat

KBRN, Semarang: Sidang perdana dakwaan perkara dugaan pemukulan perawat di Klinik Pratama Dwipuspita Kota Semarang, Hidayatul Munawaroh, yang sempat viral akibat pelaku Budi Cahyono dimarahi tak menggunakan masker, berlangsung daring di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (14/7/2020).

Atas  dakwaan itu, tim kuasa hukum Budi dari Lembaga Bantuan Hukum Rumah Pejuang Keadilan Indonesia (LBH Rupadi), Muhammad Nastain, Chyntya Alena Gaby, Okky Andaniswari, dan Sudiyono, menilai pasal ancaman pidana yang diterapkan pada kliennya kurang tepat. Apalagi sampai diancam dengan kategori penganiayaan dengan pemberatan.

Pihaknya menjelaskan, pengancaman dalam kasus itu juga tak terbukti, ditambah pemukulan juga tidak menyebabkan luka-luka berat. Kemudian ia mencontohkan penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan, yang jelas-jelas sudah terbukti menerima efek mata rusak, hukuman terhadap para pelaku ringan.

“Dengan demikian, kasus klien kami seharusnya dihukum lebih ringan lagi, karena korban juga tidak mengalami luka-luka berat, bahkan setelah kejadian masih bisa bekerja. Kami anggap kasus ini berproses karena efek viral semata, padahal seharusnya masih bisa diselesaikan kekeluargaan dan kepolisian harusnya hadir sebagai mediator, bukan malah dipaksakan proses sidang,” kata Chyntya Alena Gaby.

Selain itu, lanjutnya, dari keterangan warga sekitar Budi, kliennya juga mengalami gejala psikologis sejak lama. Dengan demikian, kliennya memang memiliki tempramen yang kurang bisa terkontrol.

“Apalagi posisi klien kami waktu itu sedang mengantar anak periksa karena sakit. Atas kasus ini, kami pastikan akan ajukan pembelaan maksimal, setelah saksi-saksi diperiksa dan tuntutan dibacakan,” tandasnya.

Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kota Semarang, Zahri Aeniwati, dalam dakwaanya  menjerat terdakwa Budi, dengan dua pasal sekaligus. Yakni Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP. Atau pasal 351 ayat (1) KUHP. 

Zahri menyebut penganiayaan yang dilakukan terdakwa berlangsung pada 9 April 2020 sekitar pukul 09.00. Saat itu terdakwa hendak mengobatkan anaknya yang sedang sakit batuk dan panas. Namun ketika datang, terdakwa tidak mengenakan masker meskipun masih marak virus Corona. Sesuai aturan, klinik tidak melayani pasien yang tidak memakai penutup hidung dan mulut. Melihat kedatangan terdakwa Budi, Hidayatul Munawaroh, menegur dan menyarankan pulang dahulu mengambil masker. Namun terdakwa tidak bersedia, kemudian justru marah-marah dan memukul kepala Hidayatul 1 kali dengan tangan kosong. Selanjutnya terdakwa mengancam korban dengan kata-kata kasar. 

“Di tempat yang sama, dokter Dyah Widowati juga di marahi oleh terdakwa. Padahal hanya mengingatkan agar terdakwa tidak membuat keributan, karena apabila tidak bersedia akan dilaporkan polisi. Setelah itu terdakwa keluar dari klinik,” jelasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00