KKN Unnes Bangun Ketahanan Pangan di Desa Lerep

KBRN, Ungaran : Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. 

Berdasarkan definisi ketahanan pangan dari FAO dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996, terdapat 4 komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan. Yakni kecukupan ketersediaan pangan, stabilitas tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun, aksesibilitas dan keterjangkauan, serta kualitas keamanan.

Dilatarbelakangi masyarakat Desa Lerep yang bermatapencaharian utamanya yaitu sebagai petani dimana salah satunya yaitu memproduksi beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. 

Pada proses pemanenan, pengolahan hingga produksi hasil yang sudah jadi atau yang disebut dengan Pascapanen padi, menjadi salah satu faktor penting dalam usaha peningkatan produktivitas dan nilai tambah beras melalui mutu yang baik.

Untuk itu diperlukan teknologi pascapanen, yaitu penggilingan padi. Penggilingan merupakan salah satu dari proses pascapanen yang sudah dikenal sejak lama. Awalnya dilakukan dengan metode yang sederhana dengan prinsip yang sama, yakni menghilangkan kulit luar gabah (sekam) serta komponen kulit ari sampai menghasilkan beras.

Strategi ketahanan pangan digagas Kepala Dusun Kretek, Hadi Susanto, bahwa warga tidak perlu menjual hasil panennya ke tengkulak, cukup menggunakan selepan (penggilingan padi), agar nilai jual lebih tinggi.

"Penggilingan padi ikut menentukan jumlah ketersediaan pangan, mutu pangan yang dikonsumsi masyarakat. Kemudian, tingkat harga dan pendapatan yang diperoleh petani dan tingkat harga yang harus dibayar konsumen," kata Hadi. 

Selain strategi ketahanan pangan dengan teknologi penggilingan padi, inovasi yang digagas kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UNNES 2021 Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat juga dalam membuat ketahanan pangan yang berasal dari ban mobil bekas dengan menyesuaikan lingkungan di desa lerep ini, tim KKN Tematik UNNES 2021 memutuskan untuk membuat media tanam dengan bahan bahan yang tersedia dan pasti terjangkau. 

Bahan utama yang digunakan sebagai media tanam di Desa Lerep ini menggunakan ban bekas yang sudah tidak terpakai tetapi masih kuat untuk dijadikan sebagai wadah untuk media tanam. Bahan bahan tambahan yang diperlukan bambu karet ban yang digunakan untuk anyaman. Dengan proses pengerjaan tergolong mudah dan alat alat yang dibutuhkan sebagian besar dimiliki masyarakat yaitu parang, gergaji, stapler beserta isinya.

Langkah pertama yang dilakukan ialah memotong satu sisi ban agar menjadi lebih lebar untuk digunakan sebagai media tanam kemudian di bagian yang tidak terpotong akan digunakan sebagai bagian bawah media tanam yang kemduain ditutup menggunakan karet ban yang dianyam agar lebih kuat. Setelah itu memotong bambu sesuai ukuran untuk tempat penyangga untuk menaruh media tanam berupa ban yang sudah jadi.

Menurut koordinator infrastruktur, Masshultan Rafi, tujuan pembuatan media tanam di mana dalam masa pandemi Covid-19 saat ini  untuk membantu meningkatkan ketahanan pangan Desa Lerep dirancangkan program work from home yang digagas oleh Presiden RI Jokowi yang kemudian di implementasikan Kepala Desa Lerep,  Sumariyadi ST.

Kemudian, dilakukan musyawarah bersama Kepala Desa dan Kepala Dusun serta Tim KKN Tematik UNNES 2021 munculah ide pembuatan media tanam dengan menggunakan bahan-bahan bekas yang dapat ditemui hampir di setiap daerah. "Dengan pembuatan media tanam ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan Warga Desa Lerep," katanya. 

Rafi juga menjelaskan pembuatan media tanam ini untuk pertama kalinya dimulai di Dusun Kretek, tepatnya pada RT/RW 01/08. Dengan mengandalkan aliran irigasi disepanjang pinggiran jalan RT 01, diharapkan dapat memudahkan dalam proses perawatan tanaman baik proses penyiraman maupun proses pengambilan tanah sebagai media tanam yang berasal dari saluran irigasi tersebut.

Program ini tidak hanya melibatkan bapak-bapak warga desa lerep dalam pembuatannya tetapi juga para ibu desa lerep dalam proses perawatan dan penyiraman

Tanaman yang ditanam berupa sayuran dan buah-buahan yang terbilang cepat untuk diambil hasilnya. Dengan harapan agar warga Desa Lerep dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari serta meningkatkan pendapatan perkapita.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00