2021, Ditemukan 102 Kasus HIV/AIDS di Kudus

KBRN, Kudus : Jumlah temuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kudus selama 2021 tercatat hanya 102 kasus atau lebih rendah dibandingkan temuan kasus tahun sebelumnya yang mencapai 116 kasus.

"Temuan kasus tahun ini yang mencapai 102 kasus merupakan periode Januari-Oktober 2021, sedangkan pada periode yang sama tahun 2020 jumlahnya lebih tinggi karena mencapai 116 kasus. Hal ini disebabkan karena pandemi Covid-19," kata Koordinator Kelompok Dampingan Sebaya Kabupaten Kudus Eni Mardiyanti, Rabu (1/12/2021).

Ia mengakui selama masa pandemi intensitas screening cenderung menurun, dibandingkan sebelum masa pandemi sehingga temuan kasus HIV/AIDS juga menurun. Kalaupun ada screening hanya pada kelompok kecil yang berisiko tinggi tertular.

Pada saat yang sama, kata dia, banyak masyarakat yang tidak berani berobat ke rumah sakit karena khawatir tertular Covid-19, meskipun dari sekian masyarakat yang sakit bisa saja ada yang terpapar HIV. Karena pengalaman sebelumnya banyak temuan dari hasil screening di tempat fasilitas kesehatan.

Ia mengakui penderita HIV/AIDS lebih mudah terpapar berbagai penyakit, termasuk Covid-19 karena imunitasnya yang rendah.

Temuan kasus HIV/AIDS tahun ini, lanjut dia, didominasi dari kelompok penyuka sesama jenis, urutan berikutnya dari pria yang suka berganti-ganti pasangan, kemudian ibu rumah tangga, pekerja seks dan perinatal.

Sementara dari sisi kelompok umur, terbanyak dari kelompok usia antara 30-39 tahun tercatat 28 kasus, kemudian usia 50-59 tahun tercatat 25 kasus, kelompok usia 20-29 tercatat 18 kasus, selebihnya kelompok usia di atas 60 tahun, dan usia 1-19 tahun.

Menurutnya, guna mengetahui jumlah riil warga Kudus yang terpapar HIV/AIDS, maka perlu dilakukan screening secara massal. Serta dukungan masyarakat untuk berbicara jujur atas kondisinya demi menghindari kemungkinan anggota keluarganya ikut tertular.

"Kasus yang terjadi selama ini, banyaknya ibu rumah tangga yang tertular karena dari perilaku suaminya yang bekerja di luar kota. Ketika pulang ke rumah membawa virus mematikan tersebut dan menularkannya kepada ibu bahkan anak balita juga banyak temuan," ujarnya.

Ia mengungkapkan kasus terbaru terdapat tiga balita yang terpapar HIV, satu di antaranya meninggal dunia, satu balita mengalami gizi buruk dan satu dalam kondisi sehat.

Penyebaran virus mematikan tersebut imbuh dia, salah satunya karena melakukan seks berisiko dan tidak setia terhadap pasangan nikah.

Hal terpenting saat ini, adalah upaya pemerintah untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit mematikan itu karena selama ini belum dilakukan sosialisasi dan edukasi secara masif kepada masyarakat. (Roy Kusuma)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar