KONI Dorong Pelatih PON Jateng Perkuat Program Latihan Atlet

KBRN, Semarang : Kelangkaan kejuaraan dan kesempatan try out atau uji coba pada masa pandemi Covid-19, menjadi tantangan bagi atlet Jawa Tengah yang disiapkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Oktober mendatang. 

Itu sebabnya, tiap pelatih, pengurus, dan ofisial cabang olahraga didorong untuk memperkuat program latihan dalam Pelatda PON, meskipun dalam masa pandemi dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

''Kondisi pandemi ini menuntut pelatih, ofisial, dan pengurus cabang olahraga harus pandai menyiasati. Minimnya kejuaraan atau uji coba bahkan tidak ada sama sekali diperkuat dalam program latihan. Tentunya, masing-masing pelatih sudah tahu bagaimana mengatasi kondisi ini. Kondisi ini terjadi pada semua kontingen,'' kata  Wakil Ketua Umum II Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jateng Sudarsono di Semarang, Senin (2/08/2021).

Kendala ini, utamanya pada cabang yang harus melakukan tatap muka seperti bela diri di nomor pertarungan dan cabang olahraga permainan baik beregu maupun perseorangan. 

''Untuk nomor seni seperti wushu pada taolu, bisa digelar secara virtual. Jadi setidaknya bisa mengatasi kendala ini. Seperti pada 2020 lalu ada beberapa kejuaraan secara virtual,'' kata dia.

Pelatih tim sepakbola PON XX Jateng Eko Riyadi mengatakan, pihaknya memperbanyak simulasi pertandingan dalam latihan rutin. Diakuinya, minimnya uji coba ini menjadikan dia harus berpikir keras. 

''Terpenting anak-anak tetap semangat berlatih dan terus belajar. Situasi sekarang berat dari segala sisi. Jadi harus percaya diri dalam latihan,'' tutur mantan pelatih PSIS Semarang itu.

Dia meminta pemainnya terus menjaga kondisi dan kesehatan. Eko menekankan pentingnya protokol kesehatan.

Daftar Prestasi

Pakar olahraga Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Soegiyanto KSMS mengatakan, di masa pandemi ini manajemen latihan atlet harus tepat. Selain itu, penerapan protokol kesehatan juga dilakukan dengan disiplin. 

''Situsasi saat ini menjadi latihan tidak maksimal. Uji coba dan mengikuti kejuaraan termasuk dalam program persipan. Jadi sangat sulit untuk menentukan tolok ukur perkembangan pemain/atlet. Lebih susah lagi memonitor perkembangan lawan,'' tandas Guru Besar FIK Unnes itu.

Satu-satunya panduannya untuk mengetahui perkembangan adalah daftar prestasi nasional. Misalnya tinju, siapa yang tertinggi di kelasnya. Pelatih harus memberikan program agar petinju Jateng bisa bersaing. 

''Setidaknya, atlet/pemain bisa menjaga peak performance hingga PON nanti. Protokol kesehatan sangat utama. Jangan sampai jelang keberangkatan terkendala atlet/pemain terkena Covid-19,'' pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00