Wol Dombos Wonosobo Keren

Karya Alvin Ariwibowo “Pedhut Di Hyang” berhasil menjadi Juara Satu Lomba Rancangan Busana Bahan Dasar Lurik/Tenun ATBM/ATM di Jakarta, Rabu Kemarin, (28/06/2022).

KBRN, Wonosobo: Meski baru seumur jagung namun tenun dari Wonosobo berhasil menyabet juara

Desainer kondang Alvin Ariwibowo melalui desain karyanya “Pedhut Di Hyang” berhasil menjadi Juara Satu Lomba Rancangan Busana Bahan Dasar Lurik/Tenun ATBM/ATM Tahun 2022 mengalahkan 34 Kabupaten/Kota se Jawa Tengah di Jakarta.

Kepala Disparbud Kabupaten Wonosobo Agus Wibowo mengatakan, kemenangan tersebut tak disangka, mengingat kain tenun di Wonosobo termasuk masih baru dibanding dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Tengah yang lebih dahulu yang mengenal tenun.

"Walau pemanfaatan secara serius kain tenun di Wonosobo masih baru, rancangan “Pedhut Di Hyang ini’ saya katakan bagus, bahan yang digunakan juga istimewa,"pujinya.

Diungkapkan kabupaten/kota lain memanfaatkan bahan tenun yang terbuat dari serat tumbuhan atau kapas, sementara, Wonosobo menggunakan wol bulu domba dari jenis domba texel yang saat ini hanya ditemui di Wonosobo.

"Tidak semua domba bisa menghasilkan wol yang bisa ditenun seperti wol Dombos," bebernya.

Menurut desainer dan perancang busana kebanggaan tanah air sekaligus juri lomba Popy Darsono, Ayu Purhadi, dan Lisa Fitria mengapresiasi atas inovasi dan keunikan dari Kain Tenun rancangan asal Wonosobo ini, yang terbuat dari wol domba.

Lisa mengatakan, rancangan busana berbahan wol dombos ini berpotensi untuk diikutkan ke ajang bergengsi fashion di Paris tahun mendatang karena sangat menarik dan unik.

Senada dengan Lisa, Popy Darsono juga menyebut rancangan tenun wol dombos juga mampu menjadi icon Wonosobo untuk diikutsertakan ke ajang Lomba Tingkat Nasional Tahun 2023.

Dikutip Sabtu (2/7/2022) Dombos merupakan domba texel keturunan Belanda yang dikembangkan di Wonosobo. Tahun 1955 dikirim bibitnya dari Belanda ke beberapa daerah di Indonesia. Populasi dombos semakin menurun padahal produksi dagingnya lebih banyak dibanding domba lokal. Sehingga perputaran ekonomi dombos kalah dengan domba lokal.

Alvin Aribowo mengatakan desain Pedhut Di Hyang memiliki makna tempat para dewa, disebut sebagai negeri di atas awan yang memiliki pesona dan daya tarik tersendiri. Cikal bakal peradaban Hindu Budha meninggalkan begitu banyak sejarah yang begitu indah untuk diceritakan turun-temurun.

Ia menambahkan, desain ready to wear ini sesuai dengan prinsip sustainable fashion yang memanfaatkan limbah bulu domba sebagai kain tenun wol lokal pertama di Indonesia. Hal ini sejalan dengan G20 yang juga bertema green economy.

“Konsep desain busana tersebut merupakan jacket hoodie unisex dengan cutting zero waste, identik dengan suasana dingin di dataran tinggi Dieng, bahkan setiap bulan Juli hingga Agustus suhu dapat mencapai -9 derajat," terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar