Pengelolaan Limbah B3 Industri, Pemerintah Optimalkan Pihak Ketiga 

Pembukaan Kantor PT PPLI di KIW Kota Semarang
Marnang Melihat Peta Pengelolaan Limbah PT. PPLI
Foto Bersama Narsum diskusi Ngobrol Peduli Lingkungan

KBRN, Semarang : Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup DLHK Provinsi Jateng Marnang Haryoto menyebutkan, saat ini potensi limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) cukup tinggi. Ada lima sektor yang diklasifikasikan jumlah limbah yang dihasilkan dalam satu tahunnya.

Pertama sektor manufaktor sebanyak 616 ribu ton, Aglo industry 55 ribu ton, Migas 950 ribu ton pertahun, Sarana dan prasarana 29 ribu ton, Jasa 354 ribu ton, Fasilitas layanan kesehatan 1000 ton.

“Ini potensi yang dihasilkan di lima sektor. Jumlah kegiatan manufaktur 254 usaha, agroindustry 156 usaha, pertambangan 56 usaha, prasaraaa 504 usaha, jasa 71 usaha, fasyankes 77 usaha total 1.118 usaha atau kegiatan di jateng. Ini potensi yang harus dikelola limbah B3 nya,” kata Marnang, usai ditemui dalam acara pembukaan diskusi Ngobrol Peduli Lingkungan (Ngopling) yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan, di Kawasan Industri Wijaya Kesuma, Kamis (30/6/2022).

Seperti di Kota Semarang sendiri, saat ini ada 7 kawasan industry, baik yang baru dan lama. Ada Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Kawasan Industri Candi gatot Subroto, BSB, dan Terboyo sudah bergerak memiliki pengelolaan limbah yang dikelola pengelola Kawasan Industri.

“Pengeola kawasan yang akan rutin mengawasi dan membina, jadi kalau ilmbah B3 tidak tertangani bisa melibatkan pihak ketika seperti PT. PPLI. Dalam proses pengawasan lebih mudah di kawasan industry karena terpusat. Ada penanggung jawabnya. Sesuai regulasi pengelola kawasan bertanggung jawab dengan tenant atau industri," sebutnya.

Menurutnya, berbeda jika industri yang berdiri tidak tersentral atau dikawasan khusus industry, pengelolaan limbah yang ada berpotensi di buang ke saluran air biasa yang akan merusak ekosistem. Hal ini seperti di bantaran sungai Bengawan Solo, banyak ditemukan limbah yang dibuang di sungai.

“Ada 64 perusahan yang kita awasi dan 4 telah disangsi adminitrasi di tahun 2022. Salah satu yang paling banyak melakukan pelanggaran diantaranya usaha rumahan minuman keras, dan tekstil di wilayah bantaran sungai Bengawan Solo,” tuturnya.

Melihat banyaknya perusahaan yang diawasi DLHK Jateng, GM Walhi Fahmi mengatakan jumlah itu sebenarnya akan jauh lebih banyak jika menyangkut Jawa Tengah secara umum. Seperti di Pekalongan ada pimpinan perusahaan tekstil yang di jatuhi sangsi karena terbukti melanggar pengelolaan limbah perusahana tekstilnya.

“Sebenarnya ada banyak yang kita pantau, seperti tambang, dan industry tekstil. Dari pantauannya, dalam kontek industry ini pengelolaan limbah B3 mereka buang saja di sungai atau yang padat di kubur. Ini persoalannya. Apalagi jateng akan menjadi provinsi yang banyak industry masuk,” keluhnya. 

Oleh karenanya, lanjut Fahmi, perlu ada kebijakan pengetatan soal limbah. Hal itu karena banyak industry yang ada di Jawa Tengah. Bahkan di Kota Semarang sudah banyak laporan yang masuk ke Walhi terkait dengan dugaan pencemaran limbah di sungai dan bibir pantai.

“Kalau lihat di Jateng pasti banyak lagi dugaan pencemaran lingkungan dari limbah. Apalagi kalau di Kota Semarang ada banyak kawasan industry, wilayah lautnya sangat parah. Banyak laporan soal pohon mangrove mati kuat dugaan itu karena limbah,” terangnya.

Fahmi menyebutkan, persoalan lingkungan memiliki banyak tantangan sehingga perlu banyak pihak untuk ikut menyorotinya. Apalagi persoalan pengelolaan limbah industry yang harus disoroti bersama. 

Melihat Jateng yang getol mempromosikan kawasan industry, menarik sebanyak mungkin investor masuk. Membuat PT PPLI, perusahaan yang bergerak dibidang pengelolaan limbah industry ini ikut masuk menjawab tantangan yang ada soal penanganan limbah B3. 

Berkolaborasi dengan DOWA perusahaan asal Jepang, PT PPLI kini hadir di Jateng berkantor di Kawasan Industri Wijayakusuma. Yurnalisdel perwakilan dari PT PPLI dalam kesempatan yang sama mengatakan melihat peluang yang besar untuk ikut masuk ke Jateng karena kawasan industry yang cukup besar. Pihaknya ingin membantu pemerintah dalam mengelola limbah B3 yang dihasilkan dari industry-industri yang ada.

“Potensi limbah B3 di Jateng cukup besar. Makanya kami invasi ke Jateng dengan kekuatan dua tempat pengelolaan limbah di Cilengsi, Jabar dan Lamongan, Jatim. Kita memiliki kekuatan landfill sebesar 200 meter kubik per jam. Inseminator hingga 50 ton perhari,” kata Fadel sapaan akrabnya. 

Saat ini, sudah ada 25 perusahaan yang bergabung dalam PT PPLI dalam mengelola limbah yang dihasilkan diperusahaan tersebut. Ia yakin dengan kapasitas pengelolaan yang besar, bisa membantu dan menjadi solusi bagi perusahaan yang kesulitan dalam mengelola limbah B3

“Kita maksimalkan hingga akhir tahun akan ada banyak perusahaan yang percaya terhadap kami.selain limbah B3 kita juga akan kembangkan pengolahan limbah non B3. Non B3 akan kita upaya pemanfaatan lagi karena masih memiliki nilai ekonomis seperti ban bekas, botol plastic hingga metal,” katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar