Muatan Lokal Bahasa Jawa, Media Pelestari Usia Dini

KBRN, Semarang : Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mencatat  mulai tahun 2021 sejumlah 11 bahasa daerah Indonesia punah. 

Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Uswatun Hasanah dalam paparannya pada rapat koordinasi Revitalisasi Bahasa Daerah, di Semarang, Jumat (24/6/2022). 

"Riset periode 2021 menyebutkan dari total 742 bahasa daerah nusantara, sebanyak 11 bahasa lokal punah," ujarnya. 

Untuk Jawa Tengah, penguasaan bahasa Jawa tingkat dasar presentasenya sebesar 25 persen. Sisanya 75 persen komunikasi menggunakan bahasa Indonesia. 

"Pelestarian bahasa Jawa merupakan topik menarik dalam penelitian. Program revitalisasi bahasa Jawa ini produknya mengembangkan materi ajar akademik," katanya. 

Uswatun menjelaskan, parameter keberhasilan program ini di antaranya bisa menjadikan bahasa Jawa untuk bahasa komunikasi verbal. Kemudian, kurikulum mata pelajaran bahasa jawa diharapkan bisa menjadi pedoman pendidikan karakter. 

"MGMP sudah menyusun bahan ajar, kemudian bekerjasama lewat forum ini. Diharapkan bahasa Jawa bisa masuk ke anak-anak mengajarkan komunikasi verbal," jelasnya.

Dia menyebutkan, media pelestarian bahasa Jawa salah satunya di sekolah-sekolah guru menyampaikan materi ajar dengan bahasa daerah. 

"Bahan materi sesorah sendiri, aksara jawa sendiri, lima poin perlu di kembangkan," ucapnya. 

Meski begitu menurutnya, pembelajaran dari keluarga dinilai efektif mendidik anak. Sosialiasi dan pendidikan pertama diajarkan keluarga sebelum anak bersosialiasi di masyarakat. 

"Karena tingkat pendidikan pertama bersumber dari keluarga. Banyak orang tua tidak mengajarkan anak bahasa jawa sejak kecil. Jika anak di didik tata krama dan kesopanan pertumbuhan mereka jadi lebih santun," tuturnya. 

Kepala Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Iwa Lukmana mengatakan, rancangan pengembangan innovasi terus dilakukan lewat digitalisasi sejumlah produk layanan bahasa. 

"Terus menerus digitalisasi produk sejauh ini ada sejumlah 8 produk. Untuk memudahkan pemakai di rangkum dalam halo bahasa. Kalau aplikasi di buka, bisa otomatis mengakses KBBI, UKBI, BUDI,  SPAI, dan Dapobas," katanya.

Menurutnya, presentase akurasi penggunaan untuk UKBI setelah dibuat daring dan adaptif peserta sudah meningkat 2-3 kali lipat.

"Kedepannya, karena anak-anak sekolah akrab dengan perangkat digital, desain aplikasi bakal memuat aksara jawa kuno," tambahnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar