Bangga Jadi Petani Melenial, Kemal Raup Rp 10 Juta/ Bulan

KBRN, Semarang : Pandemi Covid-19 melanda belahan dunia, termasuk Indonesia tidak menjadikan halangan bagi masyarakat untuk tetap produktif. Seperti halnya Kemal Abdul Azis (27), seorang petani milenial asal Mijen Semarang yang membuktikan kalau jadi petani itu sangat menjanjikan. 

Berawal dari pemanfaatan pekarangan sekolah diatas lahan sempit SDN 03 Ngaliyan Semarang, Kemal mencoba merintis pusat pembibitan urban farming secara profesional.

"Awal mulanya saya mendirikan dengan teman- teman saya di sekolah berkebun ceria tepatnya di SDN 03 Ngaliyan Semarang, karena ada lahan terbatas bingung mau diapakan alhasil kita kelola disitu," ujarnya kepada RRI, Rabu (24/11/2021).

Konsep urban farming ini mantab di pilih Kemal dan kawan-kawannya. Berdomisili di Kota Lunpia, mengharuskan kalangan millenial ini untuk memanfaatkan sisa lahan yang luasnya terbatas. 

Meski terbatas, tanaman sayuran organik dengan berbagai metode pertanian urban farming mulai dari konsep hidroponik, hingga vertikal garden, dilakoni, maka tak heran jika telah panen berkali-kali. 

"Jadi awalnya cuma gelas -gelas plastik yang diolah menjadi pot-pot cantik bernilai tinggi. Selain itu juga limbah limbah seperti air cuci beras bisa dimanfaatkan sebagai pupuk berasnya, ada kulit- kulit buah seperti jambu yang dijadikan eco enzim bisa jadi pupuk juga, jadi bisa menghemat belanja pertanian masyarakat," kata Kemal menjelaskan konsep bertaninya.

Kini, berkat tangan dingin Kemal bersama siswa- siswi sekolah dibantu relawan, satu green house dengan konsep urban farming berukuran mini yang berisi sayur mayur seperti,  kangkung, bayam, dan terong, telah beranak pinak. 

Setidaknya ada banyak green house yang tersebar di 20 pekarangan sekolah di kota Semarang hingga mampu meraup omzet berkisar Rp 10 juta/ bulan. 

"Kita punya jargon satu siswa satu tanaman sejuta harapan, jadi siswa yang menanam, siswa yang merawat dan sampai panenpun juga siswa, dari situ nanti yang memasarkan orang tua, kegiatan ini pun sudah berlangsung dari sebelum pandemi," ujarnya.

Dimasa pandemi ini, meski lama ditinggalkan pelajar, namun urban farming yang ia rintis dari nol ini tetap jalan ditangan para relawan. Bahkan, hasilnya mampu membantu memenuhi kebutuhan sayur masyarakat sekitar dan orang tua wali siswa yang membutuhkan.

"Kita dari pembibitan sejak awal meskipun ini masih pandemi, tapi punya relawan. Tidak hanya budidaya saja, tidak hanya bibit saja, tapi dari hulunya pembenihan dulu, dari biji-biji lalu kita tanam, kita tekuni," tandas Kemal.

Tak sampai disitu, Kemal juga kini mengembangkan sayap dengan merangkul kelompok tani dan kelompok wanita tani untuk menguatkan ketahanan pangan dan membuka lapangan pekerjaan.

"Dimasa pandemi ini sangat butuh asupan gizi dan asupan nutrisi bagi masyarakat, jadi urban farming ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, kedepannya prospeknya bagus," jelasnya.

Seiring keberhasilannya dalam pengelolaan dan menjadi petani Millenial, Kemal kini menjadi terkenal. Menjadi duta tani Millenial dan memotivasi generasi muda pun kini dilakoninya ditengah minimnya minat generasi muda menjadi petani.

"Saya juga termasuk petani millenial, karena sudah masuk duta millenial dan sudah diresmikan di pusat juga sebagai duta dari Semarang, dan saya terharu dan bangga," pungkasnya.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengaku sangat mengapresiasi gerakan yang dilakukan oleh anak-anak muda dari Sekolah Berkebun Ceria maupun konsep Bertani Agro Farm. 

Dengan adanya urban farming yang dimotori kalangan Milenial ini, ketahanan pangan  dapat diwujudkan meskipun hanya sejengkal lahan. Menurut Hevearita langkah ini menjadi inspirasi para pemuda di Kota Semarang untuk ikut andil memanfaatkan lahan menjadi ekonomi produktif dengan konsep berkebun hebat.

"Ini saatnya mendorong agar urban framing dapat tumbuh pesat di Kota Semarang. Sehingga ini yang kita dorong terus agar Semarang tambah hijau dan bermanfaat bagi masyarakat," tandas Ita, sapaan akrab wakil wali kota Semarang tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar