Perupa Muda Batang Tampilkan Karya Berbahan Seng 

KBRN, Batang : Selama ini seng bekas dipandang sebagai barang yang tak ubahnya hanya benda usang dan dipenuhi karat. Namun, berbeda ketika seng berkarat itu berada di genggaman  Nico Aryo Pradita, seorang perupa muda asal Kabupaten Batang, yang mengubahnya menjadi lukisan bertema seni dan budaya lokal.

Ia sengaja memilih seng bekas yang di mata sebagian warga sudah menjadi benda yang tidak terpakai. Namun di balik itu semua sebuah seng bekas pun dapat menjadi karya seni yang menarik.

“Saya melihatnya itu, dari seng-seng bekas yang sudah keropos jika digabungkan dengan kayu sebagai frame dan dibalut cat akrilik , nanti akan menjadi karya yang memiliki nilai,” terangnya, saat menggelar pameran lukisan bertema “Simbolis”, yang digelar oleh Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf), di Galeri Batik Rifaiyah / Materos Coffee, Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, Senin (4/7/2022).

Ia menerangkan ada tujuh karya yang dipamerkan antara lain 3 lukisan  Tari Tahu Robyong, 2 lukisan Simogringsing dan 2 lukisan Babalu untuk mengenalkan seni tari tradisional khas Batang kepada generasi muda. Dan untuk setiap karya dapat diselesaikan selama sepekan.

“Seniman di era masa kini harus ikut berkontribusi dalam mendaur ulang barang-barang bekas. Misalnya, baskom yang sudah rusak bisa diubah jadi benda seni yang menarik,” kata pemuda yang saat ini masih menjadi mahasiswa jurusan seni rupa, Unnes 

Ia juga mengharapkan agar karyanya dapat menjadi inspirasi seniman muda Batang lainnya.

Perupa muda asal Batang lainnya yang ikut berpartisipasi yaitu Anand Luthfi Maulana yang juga mahasiswa seni rupa Unnes.

“Lukisan saya ini berbahan kain katun primisima yang mengangkat tema budaya masyarakat pesisir Kabupaten Batang. Tekniknya tetap sama yakni membatik menggunakan canting, tapi khusus lukis batik bukan karya terapan,” bebernya.

Ia menerangkan, budaya pesisir tidak hanya terbatas pada adat istiadat. Namun lebih luas lagi pada pekerjaan maupun kehidupan sosial budaya warganya.

“Selain tema Tari Babalu, Bersih Diri pada Tradisi Kliwonan, ada pula keunikan pekerjaan masyarakat pesisir Batang yakni industri galangan kapal dan anyam jala,” terangnya.

Ia mengharapkan, karyanya bisa membangkitkan semangat berkarya kembali bagi seniman muda.

Salah satu penikmat seni, yang hampir setiap kali digelar pameran lukisan di Batang, selalu hadir adalah Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Agung Wisnu Barata. 

Ia terpukau dan mengapresiasi karya seni rupa berbahan dasar seng bekas.

“Membuat karya seperti ini bukan hal yang gampang. Idenya sangat kreatif,” sanjungnya.

Ia mendukung apabila Pemkab menginisiasi pameran lukisan berbahan dasar benda-benda semacam seng bekas atau lainnya.

“Dinas terkait pasti hadir untuk mendukung seniman-seniman muda Batang, untuk menandingi Kawasan Industri Terpadu (KIT). Nantinya Batang tidak hanya jadi kota industri, tapi juga kota seni,” ungkapnya.

Ia mengimbau agar para seniman muda selalu memiliki inovasi setiap kali berkarya.

“Hal-hal baru harus selalu dimunculkan. Dalam berkesenian jangan hanya berpegang pada pakem, tapi selalu mengembangkan ide-ide kreatif di masa depan,” tegasnya.

Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Batang, Tri Bakdo mengatakan, sebuah karya bisa multi interpretasi maupun multimedia.

“Ketika digarap secara maksimal dan sepenuh hati, barang-barang bekas seperti seng bisa menjadi karya seni luar biasa,” tegasnya.

Karya seni itu tidak terbatas pada satu media saja.

“Bisa saja di mata masyarakat umum tidak berharga, tapi ketika di tangan seorang seniman bisa menjadi karya yang sangat luar biasa,” bebernya.

Ditampilkannya lukisan bertema ragam seni tari tradisional Batang, merupakan suatu upaya bagi perupa yang berkarya di sini, untuk mengangkat nilai-nilai kekuatan kearifan lokal. 

“Ini sebuah ide kreatif mereka yang mengangkat potensi daerah ke dalam suatu karya seni yang luar biasa,” tegasnya.

Ia mengapresiasi semangat kedua perupa muda asli Batang itu karena akan menjadi generasi penerus.

“Ternyata regenerasi perupa di Kabupaten Batang itu, sudah berjalan sejak lama. Mereka adalah perupa angkatan muda yang akan menggantikan kami,” ungkapnya.

Ia mengakui, bahwa sebenarnya mereka sudah mampu menggelar pameran tunggal karena telah menghasilkan banyak karya.

“Ini hanya karena mempertimbangkan segi teknis dan keduanya masih satu jurusan, akhirnya sepakat menggelar pameran bersama,” tandasnya. (MC Batang Jateng/Heri)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar