Ancaman New Normal Bagi Dunia Pendidikan

KBRN, Semarang : Rencana new normal atau tatanan kehidupan baru dikhawatirkan dapat menambah pasien Covid -19 terutama pada dunia pendidikan. Khususnya bagi tingkat sekolah dasar dan menengah lantaran belum dapat memahami protokoler kesehatan dimasa pandemi.

Kepala Pusat Kependudukan Perempuan Dan Perlindungan Anak Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Dr. Arri Handayani, S.Psi., M.Si kepada RRI menilai, protokoler kesehatan belum dapat dipatuhi siswa jika nantinya sekolah berlangsung secara tatap muka. Menurutnya, anak usia sekolah belum dapat memiliki kesadaran yang cukup untuk mewaspadai Covid -19.

"Untuk tingkat SD, SMP saya rasa sulit diterapkan. Jika bertemu mereka akan tetap berkerumun, bermain bersama tanpa menghiraukan Covid -19," imbuhnya, Senin (1/6/20).

Dijelaskan, penerapan tatanan kehidupan baru pada dunia pendidikan perlu kajian yang mendalam untuk mencegah penambahan pasien baru Covid -19. Apalagi, seusai Idul Fitri grafik pasien Covid -19 di beberapa daerah meningkat.

“Usai lebaran pasien Covid -19 meningkat, ini bisa menjadi pembelajaran kita semua tentang kesadaran terhadap protokoler kesehatan Covid -19,” terangnya.

Sebagai solusinya Dr. Arri mengemukakan, agar pembelajaran tetap dilakukan secara daring. Dengan begitu dikatakan, siswa tetap mendapatkan pembelajaran dan meringankan beban orang tua.

“Kalau bulan Juli sekolah tetap libur, akan terjadi kekosongan belajar, dampaknya siswa tidak memiliki kegiatan yang terarah. Selain itu juga menyulitkan orang tua karena tetap bekerja mencari nafkah disatu sisi mengawasi anak yang masih libur sekolah,” ujarnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00