Jateng Valley Diharapkan Jadi Oase bagi Wisatawan

KBRN, Semarang :  Keberadaan wisata Jateng Valley seluas 371,88 hektare di Desa Ungaran, Kecamatan  Ungaran, Kabupaten Semarang yang pembangunannya dimulai tahun ini, diyakini akan menyedot kunjungan turis asing. Karena, destinasi yang akan menjadi terbesar di Asia Tenggara dan lima besar di dunia itu bergaya futuristik namun tetap mempertahankan kelestarian hutan dan alamnya.

Peletakan batu pertama pembangunan akan dilakukan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, 15 Agustus mendatang. Wisata ini merupakan  pengembangan wanawisata Penggaron, dan nantinya dari luas lahan 371,88 hektare, pembangunan sarana wisata hanya 37,1 hektare (10%) sesuai peraturan Menteri LHK Nomor P.31 Tahun 2016, tentang Pedoman Kegiatan Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam pada Hutan Produksi.

Menurut Kepala Bappeda Jateng Dr Prasetyo Aribowo SH MSoc SC, gagasan awal Jateng Valley adalah ikhtiar untuk menciptakan man made resources (wisata buatan manusia) yang berkelas dunia agar mampu menjaring turis asing berlama-lama di Jateng.

Pembangunan ini bahkan sudah masuk dalam  program Pemprov Jateng yang direncanakan dalam RJPMD tahun 2018-2023.

''Kendala utama pariwisata  kita adalah long of stay atau lama tinggal wisatawan di Jateng yang tergolong rendah. Tujuan lain, menambah destinasi wisata baru agar mereka tak hanya mengenal Candi Borobudur,'' kata mantan kadinas kebudayaan dan pariwisata Jateng itu di Semarang, kemarin.

Dia menjelaskan, bahwa tiap tahun ada 20 -25 kapal pesiar dari berbagai negara yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Sayangnya, dari seluruh penumpang kapal, hanya 20 persen yang turun berwisata di Jateng, sisanya tetap tinggal di kapal.Jateng Valley diharapkan menjadi oase bagi pelancong yang haus akan wisata futuristik namun berwawasan lingkungan dan  konservasi alam (ecotourism). Sesuai master plan yang dirancang Budi Faizal (lima besar perancang Ibu Kota Baru Indonesia di Kalimantan) disana akan ada hologram yang menceritakan potensi-potensi Jateng, replika kapal Nabi Nuh, skywalk dan wahana lain dengan konsep energi baru terbarukan.''Kita optimistis Jateng Valley akan membuat turis lama tinggal di Jateng. Karena long of stay akan mendorong layanan akomodasi, jasa transportasi, kuliner dan cendera mata,'' katanya, sambil menyebut Jateng Valley  didukung dengan Peraturan Presiden nomor 79 tahun 2019 sebagai objek strategis setara dengan Proyek Strategis Nasional.

Keunggulan

Di bagian lain, Lies Bahunta, direktur utama PT Penggaron Sarana Semesta (perusahaan yang mengawal pembangunan  Jateng Valley)  menyebut , wisata hasil kerjasama Perum Perhutani, Pemprov  Jateng dan stakeholder lainnya ini,  punya keunggulan kompetitif  karena alamnya  berupa hutan raya. Wisata ini mengingatkan pada Black Forest, wisata alam hutan terbesar di Freiburg, Jerman, yang terkenal gelap karena rapatnya pepohonan besar namun memancarkan keindahan dan kesegaran.

Menurut Lies, dalam pengerjaan tempat wisata dengan konsep futuristik itu tetap mempertahankan keberlanjutan alamnya dengan mengusung konsep sustainable forest management (manajemen hutan lestari).

Artinya, dalam pengelolaan hutan untuk wisata tetap menjaga kelestarian dan keseimbangan tiga pilar utama, yaitu ekologi, ekonomi serta sosial budaya.

"Harapan ke depan, masyarakat Semarang dan sekitarnya akan bangga punya Jateng Valley. Ke depan wisatawan kalau ingin sehat, harus singgah ke hutan karena penuh oksigen,'' kata sarjana Biologi lulusan IPB itu.

Terkait akses menuju lokasi, dia juga menganggap sebagai keunggulan karena dekat dengan Kota Semarang. Pihaknya berterima kasih kepada Pemprov Jateng yang telah menginisiasi pembangunan interchange (simpang susun)  di kilometer 426 dan 550 ruas jalan tol yang melewati Ungaran.Jelang  ground breaking, aktivitas sudah terasa di area Jateng Valley. Sejumlah pekerja tengah membabat semak belukar yang menutupi area track downhill sepanjang 1,2 km. Rencananya track tersebut akan digunakan gubernur untuk bersepeda saat hadir di acara tersebut.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00