Penguasaan Bahasa Menjadi Problem Kemajuan Pariwisata

KBRN, Semarang :Semakin banyaknya hotel di Kota Semarang dapat menjadi indikator meningkatnya kunjungan wisatawan. Meski demikian, meningkatnya kunjungan wisatawan luar kota / negeri ke Semarang belum diimbangi sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

Hal tersebut dikemukakan Dekan Fakultas Pariwisata Unisbank Semarang, Doktor Mohammad Fauzan ketika ditemui RRI, Jumat (14/02/2020). 

Menurutnya, bahasa menjadi persoalan wisatawan terutama dari luar negeri ketika berada di Semarang. Tour guide (pemandu wisata) dinilai masih perlu meningkatkan kompetensi bahasa asing, seperti bahasa Inggris, China dan Belanda. 

“Wisatawan asing tidak semua paham bahasa Inggris, jadi tour guide ya harusnya bisa juga bahasa asing yang lain,” imbuhnya.

Komunikasi, menurut Doktor Fauzan merupakan hal sederhana namun penting bagi pelayanan kepada wisatawan mancanegara. Dengan komunikasi, wisatawan dapat mengetahui keunggulan dan layanan-layanan dari pemerintah untuk menunjang kelebihan pariwisata disuatu daerah.

"Komunikasi yang baik dapat tercapai jika menguasai bahasa secara baik pula. Apalagi budaya komunikasi kita untuk memahamkan sesuatu kurang tertata dengan baik, ya asal paham saja,” ujarnya. 

Menyikapi problem tersebut, Fauzan mengatakan kampusnya memprogramkan magang kuliah ke luar negeri diantaranya ke Jepang, Malaysia dan China. Selama magang kuliah, para mahasiswa terikat kontrak dan ketentuan sesuai dengan pola kerja di tempat tersebut.

“Meski sifatnya magang, namun mahasiswa terikat kontrak agar bekerja sesuai standar kerja disana, nanti dapat pengakuan, sertifikat bahkan uang saku seusai magang,” terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00