Peringati Hari Diabetes dan Hari AIDS Sedunia, RSUP dr Kariadi Layani Konsultasi Gratis

KBRN, Semarang : Dalam rangkan memperingati Hari Diabetes Melitus dan Hari AIDS Sedunia, RSUP dr. Kariadi Semarang menggelar kegiatan senam bersama, pemeriksaaan dan konsultasi kesehatan gratis, Talk Show, Parade Edukasi HIV/AIDS serta Tes VCT gratis. Kegiatan yang dilakasnakan di Area Car Free Day Simpanglima Semarang, Minggu (01/12/2019) tersebut diikuti ribuan masyarakat kota Semarang dan sekitarnya.

"Memang kebetulan hari Diabetes itu jatuhnya adalah tanggal 14 November. Jadi setiap tanggal 14 November kita merayakannya. Tapi ini supaya momennya bisa sama-sama, kita jadikan satu di tanggal 1 Desember ini, bersamaan dengan hari HIV/AIDS sedunia,” ucap dr. Tania Tedjo Minulyo, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Indokrin Metabolik RSUP dr. Kariadi Semarang, kepada wartawan di sela kegiatan konsultasi gratis, Minggu (01/12/2019).  

"Untuk tahun ini tema peringatan hari diabetes itu adalah Diabetes dan Keluarga atau Diabetes and Family,” imbunya.

Dijelaskan pula, bahwa dengan peringatan hari Diabetes Militus, para dokter diingatkan untuk terus menyemangati pasien-pasien diabetes supaya mendapatkan support dari keluarganya.

"Mungkin teman-teman wartawan semua sudah tahu kalau di poliklinik itu pasien diabetes sering kontrol sendiri, nggak ada keluarganya yang mengantar. Kemudian juga keluarganya itu hanya pasrah aja, ya udah kamu yang diabetes kamu yang berobat. Padahal tidak boleh begitu, karena rata-rata penderita diabetes itu usianya sudah lanjut, sehingga perlu diingatkan oleh keluarga untuk minum obat dan pola makan. Jadi suport keluarga itu sangat penting,” tuturnya.

Adapun upaya preventif yang harus dilakukan untuk mencegah diabetes, menurut Tania adalah kita harus mengenali diri sendiri. Maksudnya kalau kita ada riwayat keluarga dengan diabetes, sebaiknya mulai dari usia 35 atau 40 tahun itu harus check up. Sehingga ada atau tidak ada keluhan diabetes harus check up, karena 5 tahun pertama diabetes itu tidak pernah ada keluhan.

"Jadi kalau kita menunggu ada keluhan baru kemudian kita memeriksakan diri ke dokter, itu biasanya sudah 5 tahun terkena diabetes. Itu yang sering kita temui ke pasien. Jadi kalau kita memang sudah ada riwayat keluarga dengan diabetes dari ayah, dari ibu, kakak atau adik kandung kita, sebaiknya usia 35 tahun kita harus memeriksakan diri. Itu yang paling penting,” teganya.

Sedangkan penularan diabetes menurut dr. Tania, tidak selalu dari keturunan meskipun pasien yang punya riwayat keluarga prevalensi atau kemungkinannya memang lebih besar.

"Yang biasanya diserang diabetes tipe dua itu adalah usia 50 tahun ke atas, tapi tren sekarang usianya makin muda juga sudah banyak yang terserang diabetes, akibat  kebiasaan tidak sehat. Bahkan kita sering menemukan usia 30 tahun sudah terindikasi diabetes kering,” pungkas dr. Tania Tedjo Minulyo.

Sementara itu terkait dengan HIV/AIDS, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Kota Semarang, dr. Buwono Puruhito yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menjelaskan, saat ini masih banyak masyarakat yang agak kurang tahu dengan pasti tentang HIV/AIDS, sehingga jika ada orang terinveksi HIV/AIDS atau yang dikenal dengan ODHA selalu disingkirkan, atau dipinggirkan.

“Kita ingin memberikan edukasi kepada masyarakat, bahwa AIDS itu dengan berpelukan dan bersalaman tidak menular. Sehingga kalau kita berhubungan dengan penderita AIDS atau ODHA dalam ruang lingkup sosial itu tidak ada masalah, sehingg tidak seharusnya di pinggirkan,” ucapnya.

“Kami dari Perdoksi dari bagian kulit dan kelamin, mengedukasinya adalah dengan cara  A B C, yaitu Abstinensia atau tidak berhubungan sexual, Biverful setia dengan pasangan atau tidak berganti-ganti pasangan dan  Condom, menggunakan Kondom kalau memang terpaksa berganti-ganti pasangan,” imbuhnya.

Hal senada dikemukakan pula oleh Ketua KSM Kulit RSUP dr. Kariadi, dr. Holy Ametati. Menurutnya, kepada masyarakat pihaknya selalu berusaha untuk mengedukasikan, jika ada penderita HIV/AIDS untuk tidak dikucilkan.

"Satu yang kita edukasikan adalah bila ada teman, ada sahabat yang terkena inveksi HIV/AIDS jangan khawatir, jangan dikucilkan karena HIV tidak menular melaui jabat tangan atau singgungan badan," tuturnya.

"Dan jika mencurigai kalau diri anda, atau sahabat anda menderita HIV segera untuk datang ke RS Kariadi untuk melakukan skrining gratis, karena Jika misalnya sekarang tes hasilnya negativ, belum tentu 6 bulan kemudian hasilnya juga negativ. Jadi setiap 6 buolan sekali harus rutin diperiksa, terutama bagi mereka yang gaya hidupnya itu berisiko tinggi," pungkasnya.

Sementara tim HIV/AIDS RSUP dr. Kariadi, dr. Nurvarhana menjelaskan, pelayanan HIV/AIDS Rumah Sakit dr. Kariadi banyak memberikan penyuluhan maupun edukasi di semua lini, terutama masyarakat dengan berbagai cara seperti media massa dan you tube.

“Untuk penderita HIV/AIDS hingga akhir maret 2019, Jawa Tengah masih diposisi rangking ke 5 di seluruh Indonesia. Yang pertama adalah DKI Jakarta, menyusul Jawa Barat, Jawa Timur, Papua dan Jawa Tengah di urutan ke lima. Sedangkan penularannya paling banyak lewat hubungan sexual yangh berisiko, jarum suntik yang tidak aman dan penularan melalui ibu ke anak,” ungkapnya. (don).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00