Taman Lampion Butuh Pembenahan Supaya Jadi Ikon

KBRN, Kudus : Sekitar tahun 2017 silam, Taman Krida Wisata memiliki ikon wisata menarik yang selalu dipadati ribuan pengunjung hampir setiap hari. Yakni adanya keberadaan Taman Lampion dengan keindahan lampunya yang terbuat dari Acrylic, menjadi primadona saat itu.

Warna – warni lampu yang dipasang dipohon dan binatang buatan memancarkan cahaya yang indah dan menarik. Apalagi ketika itu, Taman Lampion tersebut hanya satu – satunya yang ada di eks Karesidenan Pati. Anggaran yang digelontorkan ketika itupun cukup besar yakni Rp 2,5 miliar.

Taman Lampion yang ketika itu dibuka pada saat tahun baru 2017, dalam tiga hari pertama pernah mendapatkan pemasukan sebesar Rp 30 juta. Angka pemasukan yang fantastis kala itu. Namun sayang, hingar bingar keberadaan Taman Lampion hanya berlangsung selama setahun saja. Sejak tahun 2018 hingga kini kondisinya sudah mulai redup bahkan terkesan kurang terurus. Apalagi ditambah pandemi sejak tahun 2020 hingga sekarang, kondisinya semakin merana.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Mutrikah mengatakan  selama ini Taman Lampion tetap dirawat dan dibersihkan. Hanya ada beberapa arca lampion yang sudah rusak dan juga lampunya sudah banyak yang mati.  Karena untuk memperbaiki juga membutuhkan anggaran, sehingga sampai saat ini belum bisa memperbaiki.

Selain itu kata Mutrikah, animo masyarakat untuk masuk di Taman Lampion ketika itu semakin menurun, sejak 2 hingga 3 tahun yang lalu.  Sehingga bila dilakukan perhitungan terhadap biaya listrik yang dipergunakan untuk lampion dan PAD, menjadi tidak seimbang.

“Ketika lampion kita hidupkan, sementara pengunjungnya nggak ada, maka akan tidak seimbang antara biaya yang kita keluarkan dan penerimaan PAD. Sehingga hal ini perlu kami sikapi dalam penghematan biaya pelaksanaan kegiatan, khususnya di Taman Lampion. Karena memang biaya listriknya cukup besar,” ujar Mutrikah, Rabu (8/12/2021).

Ketika sebelum pandemi lanjut dia, ketika ada kegiatan dan untuk mensupport kegiatan wisata di komplek GOR Wergu Wetan, lampion tersebut juga dinyalakan. Tapi  selama pandemi ini, lampu lampion memang tidak pernah dihidupkan. Selain karena adanya PPKM, juga karena lampunya semakin hari semakin banyak yang mati. Inilah yang menjadikan kurang bisa dinikmati. (RK)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar