Bubur Jamu Coro, Legendaris dan Dipercaya Ampuh Menangkal Covid-19

KBRN, Demak : Warga berbondong-bondong memadati penjual jamu Coro yang berlokasi di jalan Bhayangkara, Demak, tepatnya di perempatan kali tuntang. Sebuah lapak pedagang kaki lima yang menjajakan jamu Coro sudah di padati pembeli sejak mulai berjualan pukul 15.00 WIB.

Pembeli jamu legendaris di Demak, Wiwik mengatakan kandungan aneka jenis rempah disinyalir mampu meningkatkan imunitas tubuh di tengah penularan Covid-19 yang kian mengkhawatirkan.

“Soalnya komposisinya dari rempah-rempah bisa menghangatkan badan, secara tidak langsung bahan alami mampu menjadi obat herbal dalam menangkal virus,” jelasnya, Minggu (4/7/2021)

Sementara itu, pedagang jamu Coro, Sri Puji Utami menuturkan komposisi 15 jenis rempah pada jamu olahannya dipercaya berkhasiat dan ampuh dalam menangkal radikal bebas lantaran virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh.

“Bahan dasarnya kan ada cengkeh, akar wangi, jahe, serai, serta empon-empon lainnya itu kan ramuan herbal kalau masyarakat Jawa sejak dulu tak pernah meragukan khasiatnya. Untuk menghangatkan badan, sampai mengembalikan metabolisme tubuh yang terinfeksi virus dan bakteri,” ungkapnya.

Jamu dipercaya ampuh dengan kandungan anti inflamasi untuk melawan  bakteri jahat dan virus berbahaya. Wedang jamu dengan bahan dasar tepung dan di padukan dengan aneka jenis rempah-rempah dengan cita rasa jahe yang begitu dominan membuat tubuh menjadi hangat, mulai dari kerongkongan dan menjalar ke seluruh tubuh.

Konon, jamu Coro sudah ada sejak zaman Walisongo dan di hidangkan sebagai sajian dalam tiap acara atau pertemuan. Sri yang telah berjualan selama 20 tahun lamanya mengatakan dulunya ia berdagang keliling bersama suaminya. Namun, kini usahanya di kelola bersama putra sulungnya  dan kini mampu meraup keuntungan hingga Rp 700 ribu bahkan Rp 1 juta tiap harinya.

“Awal mula merintis usaha keliling mas, tapi alhamdulillah sekarang udah menetap disini. Ya kalau untuk omzetnya sendiri tiap harinya sekitar Rp 700 ribu sampai  Rp 1 jutaan,” imbuhnya

Dirinya mengaku dengan pemberlakuan PPKM mikro di Demak cukup memangkas keuntungannya lantaran pembelinya yang berasal dari luar kota berkurang drastis. Kendati demikian, animo masyarakat sekitar yang ingin meningkatkan imunitas dengan maraknya varian baru Covid-19 mulai menyerbu dagannya sejak dirinya mulai membuka lapak.

“Dulu sih sebelum pandemi rombongan peziarah dari Kudus, Demak, Pekalongan, bahkan Jawa Barat sampai singgah kesini. Banyak banget jumlahnya, sampai ada 2 bus,” pungkasnya.

Dengan segudang manfaatnya untuk kesehatan tubuh, pengunjung hanya perlu merogoh koceknya sebesar Rp 2.500. Tak heran, hingga menjelang adzan maghrib tiba dagangan Sri sudah ludese terjual.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00