Andong Wisata, Mewarnai Minggu Pagi di Simpanglima

KBRN, Semarang : Minggu pagi suasana riuh mewarnai Car Free Day (CFD) di kawasan Simpanglima, Semarang. Masyarakat menghabiskan waktu luang dengan berolahraga, sembari menikmati segarnya udara pagi. Ada yang berburu kuliner, tampak pula beberapa rombongan keluarga mengelilingi jantung Kota Semarang, menggunakan andong.

Meski hanya di akhir pekan, kehadiran andong turut meramaikan suasana di kawasan CFD. Mayoritas pemilik andong wisata ini berasal dari Demak.

“Sejak kelas 5 SD sudah jadi kusir andong, kalau hari biasa di Mranggen cuma bisa mengantongi Rp 100 ribu sampai 150 ribu, tapi kalau Minggu pagi di lokasi CFD bisa membawa pulang sebesar Rp 400 ribu bahkan Rp 500 ribu,” kata Gembos (63) kusir Andong asal Mranggen, Demak ketika ditemui rri.co.id, Minggu (3/10/2021).

Sejak pagi buta, pria yang mengenakan lurik dan berambut gondrong itu sudah mengarungi  padatnya jalanan dari ujung timur batas kota sampai lokasi CFD di kawasan Simpanglima. Kini, beralihnya fungsi andong dari moda transportasi umum menjadi angkutan wisata dirasa dia sebagai keniscayaan.

Jika hari kerja di sekitar tempat tinggalnya, masih menjadi sarana angkutan menuju pasar atau hasil panen. Namun, keuntungan yang didapat dari CFD membuat dia bersama paguyuban andong wisata, beralih memanfaatkan jadi angkutan wisata.

“Saya berangkat sekitar jam 4.30 WIB, sampai Simpanglima jam 6.00 WIB. Rutinitas ini sudah saya jalani sejak puluhan tahun lalu, kalau sekarang ya sama cucu,” ujarnya.

Kendati sudah tak lagi muda, semangatnya untuk mengendalikan kuda berwarna coklat miliknya tak perlu di ragukan. Senada, di lokasi lain, kusir bendi lain yang juga berasal dari Kota Wali, Wawan (40) mengungkapkan, sejak 6 pekan lalu mendulang rezeki kembali dalam sehari dia baru mampu mengantongi Rp  200 ribu untuk mengantarkan penumpangnya mengitari Simpang Lima – Jalan Pahlawan dan lokasi lain sesuai permintaan, jauh berbeda sebelum hantaman pandemi.

“Lumayan rame hari ini, tapi kemarin pas ada PPKM sepi. Rame pertama ndisik mas sebelum ada pandemi, rata-rata sehari nyari Rp 500 ribu masih bisa. Sekarang mentok ya Rp 200 ribu mas,” tuturnya lirih.

Kusir andong lain Sodiq menyebutkan, usai mendekam di kandang selama 4 bulan, kuda miliknya sejak 6 pekan lalu kini mulai menemaninya mengais rezeki.  Namun demikian, untuk menutup biaya perawatan yang mencapai minimal Rp 1 juta per bulan ia mengaku kewalahan dan mesti memutar otak dengan menawarkan jasa di sekitar tempat tinggalnya.

“Karena untuk perawatan dan biaya makan ini lumayan, di sekitar tempat tinggal tetap narik meski cuma sebentar. Soalnya kalau pas sepi dengan biaya minim, terpaksa libur atau cuma di kasih rumput aja. Narik sewajarnya aja, kalau ngga ada dedak atau katulnya ini dia tenaganya kurang, belum lagi telurnya 7-9 butir,” keluhnya

Dengan kondisi yang masih beranjak pulih, kata dia, asupan dan konsumsi untuk meningkatkan performa kudanya perlahan terpenuhi. Pasalnya, untuk memulihkan stamina kuda tak bisa serta merta dalam sekejap, namun latihan rutin di lakukan itupun di tunjang asupan nutrisi optimal.

“Lumayan asupan bisa di penuhi, tapi kendala di bekatul susah nyarinya jadi di siasati dengan ampas tahu, tapi nanti badannya ngga kenceng, lumayan jika cuma di kasih rumput. Tapi, itu dilatih dulu dengan bendi, dan ngelatihnya itu nggak gampang juga. Kalau tunggang ibaratnya kayak naik motor, kalau ini seperti bawa mobil yang nggak ada remnya,” kata pria yang baru setahun ini menjadi kusir andong.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00