Sepi Penumpang, Pengayuh Becak Andalkan Uluran Tangan Dermawan

KBRN, Semarang : Bagi pengayuh becak, pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir berdampak nyata. Pendapatan mereka merosot drastis,  bahkan untuk makan pun harus menunggu uluran tangan dari para dermawan yang tergugah hatinya manakala melintas.  

Hal itu dialami Mian, pria asal Demak yang menjadi pengayuh becak di kawasan jalan Ahmad Yani.  Ia bercerita, semenjak Covid-19 mewabah bahkan dalam kurun waktu sepekan tak ada seorang penumpang pun yang menghampirinya. 

"Walah satu minggu narik sekali aja bejo mas,  nggak ada harapan tukang becak. Selama pandemi Korona, sama sekali mati tukang becak nggak narik,  makan aja menunggu bantuan dari orang lain, " ungkapnya dengan nada lirih, Kamis (16/9/2021).

Penghasilan yang tak menentu dalam sehari,  tak mampu mencukupi kebutuhan harian keluarga yang ada di kampung halaman.  

"Sebelum ada corona tukang becak masih narik,  karena masih ada hotel yang beroperasi.  Pas corona kadang sehari narik sekali kadang dua kali," keluhnya.

Penumpang yang tak kunjung datang membuat pria yang sudah puluhan tahun menjadi pengayuh becak ini terpaksa banting tulang, bahkan hingga larut malam. 

Bahkan,  kerap kali dia terlelap di atas becak berlatar belakang gemerlap cahaya lampu kota. Dia tidak memilih pulang ke rumah lantaran pundi-pundi rupiah yang di dapat tak mencukupi.  

"Nak nggo makan sendiri masih bisa,  tapi kalau yang di kampung? Nak tukang becak jaman mbien (dahulu)  bisa buat nyekolahin anaknya,  zaman sekarang ini untuk makan aja susah," imbuhnya.

Hingga detik ini,  pria asal Kota Wali itu mengaku belum mendapat bantuan sama sekali dari Pemerintah. 

"Bantuan Pemerintah apa rata sekarang?  Sing sugih oleh bantuan malah sing bener-bener butuh nggak mendapat bantuan," ujarnya dengan nada kecewa.

Saat ini,  Mian hanya bisa berharap pandemi Covid-19 segera mereda agar dapat mendulang rupiah untuk bertahan hidup.  

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00