Becak, Transportasi Tradisional Yang Tergerus Perkembangan Zaman

KBRN, Semarang : Moda transportasi roda tiga tanpa mesin atau dikenal becak, kini mulai ditinggalkan masyarakat. Di era kekinian,  masyarakat terutama di perkotaan lebih memilih transportasi pribadi atau bahkan transportasi online berbasis aplikasi.  

Panas terik dan debu beterbangan dari kendaraan yang berlalu lalang selalu menemani Sudir (62), pengayuh becak yang biasa mangkal di jl Ki Mangun Sarkoro, Semarang.  Sepinya penumpang sudah dirasakan sejak dua tahun terakhir, ditambah kondisinya sedang pandemi Covid-19. 

"Kami cuma bisa mensyukuri saja, kadang ya dua kali narik, kadang ya nol sama sekali nggak narik," keluhnya sembari menunggu penumpang didepan Stadion Diponegoro, Minggu (12/9/2021).

Namun, pria renta itu tak patah arang untuk berjibaku menghadapi moderenisasi transportasi. Ia menuturkan, zaman yang menuntut serba instan, memaksa rakyat kecil untuk memahami keadaan.  

"Dengan adanya transportasi online, kami nggak nyalahin, tapi harus memahami karena sudah zamannya," jelasnya.

Situasi sulit dalam menyambung hidup, apalagi himpitan ekonomi, memaksa pengayuh becak untuk bertahan menunggu. Bahkan, ia sampai terlelap lantaran tak seorang pun penumpang datang. 

"Sekarang paling hanya ibu ibu yang ke pasar, kalau anak-anak malu memakai becak," tuturnya sembari mengisi perut, waktunya makan siang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00