Sopir Ambulans, Antara Cemas Terpapar Covid-19 dan Mengabdi Demi Kemanusiaan

KBRN,Semarang : Melejitnya kasus Covid-19 tak hanya membuat tenaga kesehatan yang berjuang sebagai garda terdepan, kewalahan. Namun, pengemudi ambulans turut berjibaku membelah padatnya jalanan demi memberi pertolongan bagi masyarakat. Dibalik kerasnya pengabdian pengemudi yang rela bertaruh nyawa di jalan raya ini ada sisi nurani yang turut berbicara. 

Rasa kemanusiaan demi nyawa pasien agar lekas terselamatkan. Selain itu ada juga rintihan air mata, ketika nyawa pasien yang dibawanya tak tertolong, hingga akhirnya menjadi cerita lara.

Tak hanya itu, terkadang rasa cemas akan resiko penularan Covid-19 juga tak bisa dihindari, meski APD sudah melekat di badan. Kesaksian tersebut disampaikan Suwaryanto (51) yang sudah mengabdi sebagai pengemudi ambulans selama 28 tahun lamanya.

Namun, dia baru merasakan beratnya perjuangan selama setahun terakhir usai Covid-19 mulai merenggut ribuan korban jiwa.

“Kami bisa nolong orang lain sebagai wujud pengabdian pada negeri dalam memerangi pandemi Covid-19. Apalagi kemarin pas puncaknya, dalam sehari silih berganti nganter jenazah tapi kami juga mengantar jenazah pasien Covid-19 sampai tengah malam,” jelasnya ketika ditemui RRI Selasa (27/7/2021).

Suwaryanto bercerita selama pandemi Covid-19, dirinya pernah menembus gelapnya malam untuk mengantar jenazah pasien Covid-19 sampai sejumlah kabupaten lain di Jawa Tengah bahkan sampai luar provinsi.

“Pernah ke Kebumen, Boyolali, Jakarta, bahkan sampai Jakarta dan Bogor. Itu semua tulus kami jalani sebagai wujud partisipasi dan kepedulian untuk saudara-saudara kita yang merenggut nyawa karena terpapar corona,” imbuhnya

Di balik kerasnya profesi dan amanah yang mesti di emban Suwaryanto sering terhentak empatinya dengan tangis pilu dari keluarga jenazah yang diantarnya. Meski ia sering berpacu dengan waktu untuk menolong nyawa seseorang, tetapi kala ada satu nyawa melayang dirinya pun terkadang tak kuasa menahan kesedihan.

“Ya meski ini tuntutan profesi tapi rasa kemanusiaan itu selalu berbicara, kadang waktu kita nganter jenazah ke rumah duka kita secara emosional nggak bisa menahan kesedihan dari keluarga yang sudah melihat jenazahnya terbujur kaku di dalam peti,” katanya

Tak ayal, hingga detik ini pria paruh baya tersebut berpesan pada seluruh masyarakat agar selalu taat pada aturan Pemerintah untuk terus patuh dalam menerapkan protokol kesehatan. Menurutnya, covid-19 itu nyata dan benar adanya, tak di pungkiri sudah puluhan nyawa yang di antarkan ke peristirahatan terakhir.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00