Epidemiologi COVID-19

KBRN, Semarang : Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pola penyebaran penyakit atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan, serta faktor-faktor yang dapat memengaruhi keadaan tersebut. Demikian, diungkapkan Kistyono, SKM dari Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) Semarang dalam dialog Seputar Kita di RRI Semarang, Jum’at (5/6/2020).

Lebih lanjut disampaikan epidemiologi dilakukan pada lingkup masyarakat tertentu, mulai dari lingkup yang kecil hingga lingkup yang lebih besar. Misalnya, lingkungan perumahan, sekolah, daerah, negara hingga dunia. Aplikasi ilmu epidemiologi adalah untuk melakukan investigasi terhadap suatu kejadian yang berhubungan dengan kesehatan agar bisa dikontrol.

Kistyono juga menjelaskan dalam epidemiologi, ada istilah yang disebut epidemik, endemik, pandemik, dan wabah. Semua ini berhubungan dengan penyakit-penyakit serius.

“Wabah adalah terjadinya suatu penyakit dalam masyarakat, di mana jumlah orang terjangkit lebih banyak daripada biasanya, pada komunitas tertentu atau di musim-musim tertentu. Tidak hanya di satu wilayah, tetapi bisa juga meluas ke daerah atau negara lain,” kata Kistyono dari Balkesmas Semarang.

“Pandemi adalah wabah penyakit yang terjadi secara luas di seluruh dunia. Dengan kata lain, penyakit ini sudah menjadi masalah bersama warga dunia. Contoh : HIV/AIDS, influenza dan COVID-19 yang saat ini sedang kita hadapi dan menjadi masalah penyakit tingkat dunia,” sambungnya.

“Sedangkan, endemi adalah keadaan atau karakteristik wilayah atau lingkungan tertentu yang ada hubungannya dengan penyakit. Penyakit ini selalu ada di daerah tersebut tapi frekuensinya rendah. Di Indonesia, contohnya, ada daerah yang merupakan endemik malaria,” ungkapnya.

Epidemiologi merupakan ilmu yang penting bagi para tenaga kesehatan. Diharapkan dengan bantuan epidemiologi, pemerintah dan tenaga kesehatan dapat memetakan pola penyakit sehingga bisa dilakukan langkah-langkah untuk mencegah perburukan dan mencari solusi agar terhindar dari COVID-19.

Lebih lanjut Kistyono mengemukakan : “COVID-19 yang awalnya dari Wuhan China penyebarannya melalui perantara manusia ke manusia,  menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Mengingat saat ini belum ditemukan vaksinnya, maka untuk pencegahan perlu perubahan perilaku seluruh elemen masyarakat dengan menerapkan tatanan kehidupan baru (new normal). Yakni memakai masker bila keluar rumah, menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang lain, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sering mencuci tangan dengan sabun. Di samping itu juga dengan menggalakkan kembali Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.” (sj)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00