Guru Potret Masa Depan Bangsa

hari_guru_istimewa.jpg
Biar begitu, merekalah yang menanamkan masa depan paling awal kepada anak bangsa.

Beban menjadi guru amatlah besar, namun kadang tidak seirama dengan hak yang diterima.

Mari merenung sejenak. Seorang guru bisa mencerdaskan putra-putri orang lain, tetapi ada yang kesulitan menyekolahkan anaknya sendiri ke jenjang pendidikan yang lebih layak.

Siapa yang tidak prihatin ketika ada guru honorer bertahun-tahun hanya digaji Rp 200-300 ribu per bulan? Bukan basa-basi lho!

Stereotip bagi guru masih sering terdengar ”pahlawan tanpa tanda jasa”.

Para guru dituntut untuk tidak serta-merta mengeluh dengan dasar pengabdian.

Baca Juga : Patuh Prokes, Selamatkan Semua

Padahal, dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu. Kegundahan itulah yang harus segera diatasi.

Besar kemungkinkan antusiasme mengajar guru, salah satunya, dipengaruhi oleh gaji.

Alangkah bijaksana, tanggung jawab cukup berat itu diimbangi dengan penghargaan yang layak.

Sebagai motivasi meningkatkan kinerja, menjadi persaingan sarjana pendidikan lebih kompetitif.

Mewujudkan guru-guru profesional di seluruh penjuru Nusantara.

Penghargaan paling utama bagi seorang guru adalah ketika anak didiknya berhasil mengukir masa depan yang cerah.

Percaya masa depan pahlawan tanpa tanda jasa ini pasti indah.

Selamat Hari Guru!

Halaman 2 dari 2

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00