Kerajinan Batu, Produk Unggulan Desa Jurang

KBRN, Kudus : Di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus saat ini terdapat 15 pengrajin batu. Kerajinan batu buatan pengrajin Desa Jurang ini sebagian besar hanya dikenal dikalangan lokal dan warga sekitar desa tersebut.

Sungguh sayang bila hasil pengrajin batu tersebut belum dikenal luas oleh masyarakat luar kota. Salah satu pemilik usaha pengrajin batu, Kartini (28) mengatakan, usaha yang dijalankan ini sebelumnya dirintis oleh almarhum suaminya sejak 11 tahun lalu.

Sejak suaminya meninggal tiga tahun yang lalu, usaha kerajinan batu ini dilanjutkan dengan mempekerjakan dua orang pengrajin. Bahan baku batu diambil dari Desa Rahtawu yang berada di lereng Gunung Muria.

Biasanya, batu yang dipakai adalah jenis andesit yang karakternya tidak lunak dan tak keras, sehingga mudah dibentuk, awet, serta kuat.

“Saya sudah punya orang di Desa Rahtawu mas. Biasanya begitu saya minta langsung dikirim sebanyak satu colt pick up. Itu dihargai Rp 15 ribu per colt. Mereka yang memilih batu jenis andesit sesuai pesanan saya,” jelas Kartini, Kamis (16/9/2021).

Selain cobek, jenis kerajinan yang dihasilkan seperti halnya ada lumpang, vas bunga, dan wastafel. Namun untuk patung memang pengrajin di desa ini belum ada yang mampu. Untuk pemasarannya, khusus cobek dan lumpang biasanya diambil para bakul untuk dijual di Pasar Piji, Pasar Kliwon, dan pasar – pasar dekat pabrik rokok.

"Harga per satuanya bervariasi mas, tergantung besar kecilnya diameter cobek. Mulai dari harga Rp 30 ribu – Rp 40 ribu per biji. Namun untuk jenis kerajinan lainnya seperti vas bunga dengan tinggi 70 cm bisa dihargai Rp 700 ribu per bijinya,” ujar dia.

Kepala Desa Jurang, Muhammad Noor menambahkan, kewajibannya sebagai kepala desa untuk mengangkat UMKM andalan desanya ini. Terdapat 15 pengrajin dari batu ini. Bahkan selama pandemi pun tidak begitu terpengaruh karena mereka tetap bekerja dan berkarya.

“Saya berharap kedepan Desa Jurang bisa menjadi sentra kerajinan batu. Apalagi dengan keberadaan 15 pengrajin ini kami berharap akan terus tumbuh pengrajin sejenis di desa ini. Untuk mendukung pemasaran, kami pun sudah melakukan pengenalan lewat media sosial,” kata Muhammad Noor.

Bahkan, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus Mawar Hartopo juga sudah pernah berkunjung ke desanya, dan pengrajin disarankan untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUB) agar mendapatkan bantuan modal. (Roy Kusuma)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00