4 Tahun Mondok, Nisa Ingin Bahagiakan Orang Tua

KBRN, Semarang : Perasaan sedih seringkali dialami Khoirunnisa ketika menjadi santri baru Pondok Pesantren Al Ikhlas, Kelurahan Pedurungan lor Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Jauh dari keluarga, tuntutan berbagi sarana dan prasarana bersama teman santri harus dijalani nisa, sapaan akrabnya.

Ketika ditemui RRI, Nisa menceritakan awal-awal "nyantri" di Ponpes Al Ikhlas. Bermula dari tahun 2017 orang tuanya meminta untuk menimba ilmu agama dan umum di Kota Semarang.

"Sejak tahun 2017 lalu bapak dan ibu minta agar saya melanjutkan sekolah sembari mondok," kata gadis asal Morodemak Kabupaten Demak tersebut, Sabtu (24/10/2020).

Tidak mudah menjalani santri, adaptasi kehidupan sehari-hari dan jauh dari keluarga sempat menyulitkan Nisa. Terlebih, selain sebagai santri juga menjadi siswa sekolah.

"Kadang capek juga, tapi tetap semangat mengikuti kegiatan pondok dan sekolah karena tidak ingin mengecewakan orang tua," pungkasnya.

Nisa, Santri Asal Morodemak

Tiga tahun berlalu, kini Nisa telah lulus dari Madrasah Aliyah (MA) Takwa Lillah di Meteseh, Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Kini melanjutkan studi di Kampus IKIP Veteran Kota Semarang.

"Alhamdulillah kerasan di pondok, kini lulus dari MA lanjut ke perguruan tinggi," ungkapnya.

Sementara itu, pengurus santri putri Ponpes Al Ikhlas Lilis Fitri Widiastuti mengaku, untuk kebutuhan sehari-hari sesama santri saling berbagi seperti keperluan makan. Setiap hari para santri mendapatkan makan 3 kali pada waktu pagi siang dan malam.

"Tidak ada nominal santri bayar sekian tiap bulan, seikhlasnya dari para santri atau wali santri," kata Lilis.

Lilis, Pengurus Santri Putri Ponpes Al Ikhlas

Dijelaskan, untuk makan pengurus santri putri memasak didapur dengan arahan ibu Kyai. Menggunakan bahan bakar kayu, 10 santri putri memasak satu karung beras dan sayuran untuk konsumsi santri 3 kali sehari.

"Umi (istri pengasuh) memberi arahan memasak, mulai dari menyiapkan, mengolah dan membagi makanan bagi santri putra maupun putri," bebernya.

Ditambahkan Pengasuh Ponpes Al Ikhlas, KH. Ulil Albab Syaichun, santri asal tekun akan menjadi orang bermanfaat dikemudian hari. Terlebih dimasa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

"Mulai subuh ngaji, nanti sekolah, pulang sekolah ngaji lagi sampai pukul 21.00 WIB. Belajar agama dan pelajaran umum ditekuni terus," paparnya. 

Abah Uli, Pengasuh Ponpes Al Ikhlas 

Menurut Abah Ulil sapaan kesehariannya, santri diajarkan hidup sederhana agar dapat bertahan dimanapun berada. Namun untuk mengapai cita-cita, santri dituntut untuk tekun dan bekerja keras.

"Asal mempeng (tekun-red) santri pasti betah dipondok. Untuk makan, minum dan tempat tidur kami sediakan, kuncinya tekun pasti berhasil," tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00