30 Petani Ikuti Pelatihan Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah

KBRN, Magelang : Sebanyak 30 perwakilan petani yang ada di wilayah Kabupaten Magelang mengikuti kegiatan  Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah yang digelar Muhammadiyah Tobacco Control Centre (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang.

“Sebelumnya, kegiatan Sekolah Tani Mandiri ini dilaksanakan secara on-line karena telah dilaksanakan hampir dua tahun lalu dan saat di masa pandemi Covid-19. Dan, kali ini digelar secara off-line,” kata Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Centre Universitas Muhammadiyah Magelang Retno Rusdjijati disela-sela kegiatan Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah di SMK Muhammadiyah 2 Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jumat (21/1/2022).

Retno mengatakan, adapun materi Sekolah Tani Mandiri  yang digelar setiap hari Jumat hingga 11 Februari mendatang, antara lain tentang perikanan, tanaman herbal, budidaya tanaman bunga, budidaya tanaman pangan non beras dan kebijakan dan politik pertanian.

Dalam kegiatan sekolah tani tersebut, pihaknya juga bekerjasama dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah  dan Pimpinan Dewan Muhammadiyah Kabupaten Magelang serta Forum Petani Multikultur Indonesia.

Ia berharap, dengan adanya pelatihan tersebut,  diharapkan bisa membantu peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, meningkatkan serapan pasar, meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

“Selain itu, juga meningkatkan kesejahteraan petani tembakau melalui agribisnis dan agroindustri berbasis tanaman obat,” katanya.

Ia menambahkan, selain memberikan pelatihan , pihaknya juga memberikan pendampingan bagi para petani dan memfasilitasi para petani untuk menjual hasil pertaniannya.

Retno mengatakan, materi yang diberikan pada sekolah tani mandiri kedua ini, yakni tentang budidaya tanaman herbal. Diangkatnya, materi tersebut karena potensi tanaman herbal di wilayah Kabupaten Magelang sangat tinggi.

“Prospek tanaman herbal di wilayah Kabupaten Magelang seperti jahe, kunyit, dan temulawak  dan lainnya sangat menjanjikan. Apalagi, saat masa pandemic Covid-19, banyak masyarakat yang memerlukan obat-obatan yang herbal,” ujarnya.

Ahmad Badholi, salah satu petani yang menjadi peserta sekolah tani mandiri mengaku, dirinya tertarik mengikuti kegiatan tersebut, karena ingin mengembangkan pertanian khususnya tanaman herbal.

“Selain itu, pengetahuan kita akan berbagai macam  budidaya tanaman  semakin bertambah,” katanya. Dyas

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar