Truk ODOL, Rawan Jadi Penyebab Kecelakaan Jalan Tol

KBRN, Semarang : Truk yang over dimensi over load (ODOL) kerap menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan bisa diakibatkan rangka patah, tabrak belakang, bahkan tabrakan beruntun. Ini lantaran minimnya penerangan di malam hari, disebabkan truk tak memenuhi standar layak jalan.  

Pengamat Transformasi asal Unika Soegijapranata Semarang Djoko Setyowarno menilai, penanganan truk ODOL menjadi sebuah urgensi agar tak semakin memicu jatuhnya korban. Sebab, beberapa perusahaan logistik ataupun pemilik armada merubah aturan spesifikasi bak kendaraan demi memangkas ongkos perjalanan.  

“Hukum ekonomi memaksa mereka untuk merombak dimensi bak demi menutup biaya perjalanan yang dikeluarkan. Di balik itu, regulasi untuk memangkas truk ODOL sudah jelas, tapi masih perlu ketegasan dari pihak terkait,” jelasnya, Kamis (17/9/2021).

Untuk mengatasi hal itu, bukan hanya menjadi kewenangan dari Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Hal itu pun menjadi tugas dari pemilik perusahaan dan pemilik armada supaya lebih mawas diri supaya kasus kecelakaan kendaraan dengan muatan berlebihan bisa ditekan.

Selain itu,  dia meminta, semua pihak untuk terintegrasi, antara pemilik perusahaan dan barang, agar biaya perbaikan jalan dapat dikurangi untuk anggaran pembangunan jalan yang baru.  

“Itu supaya menyelamatkan APBN dan APBD, karena jalannya rusak terus- menerus, porsinya harus seimbang dengan anggaran untuk pembangunan infrastruktur,“ ungkapnya.

Menurut dia, sejak memasuki pintu tol, kendaraan muatan berat dan masuk kategori ODOL dibatasi dengan koordinasi dari BPJT dan Jasa Marga. Hal itu untuk mengatasi potensi kecelekaan di jalan tol, apalagi aturan batas kecepatan minimal di jalan tol.  Ia meminta kendaraan over dimensi segera melalukan normalisasi.  

Sementara itu, pengusaha bidang logistik, Fikri Nur Rizaldy mengatakan, regulasi dari Pemerintah masih lemah dalam menindak truk dengan muatan melebihi kapasitas.  Upaya tegas dari pemerintah sampai ke telinga pengusaha maupun perusahaan bisa dioptimalkan. 

“Sebagai pengusaha logistik, kalau regulasi dari Pemerintah untuk truk ODOL itu dikenakan saksi tegas. Kalau itu sebagai regulasi perusahaan, kemudian tembusan kepada  perusahaan atau yang punya barang dimuati sesuai aturan,  itu harus jelas,  apalagi ini untuk keselamatan bersama,” ungkap pengusaha di bidang ternak asal Grobogan

Ia menambahkan,  fakta di lapangan jauh berbeda lantaran pihak perusahaan sudah menetapkan volume muatan bagi pemilik armada. Mirisnya,  kondisi perekonomian di masa pandemi tak memungkiri untuk menolak permintaan. 

“Kami senang aja muat sesuai aturan,  tapi dari perusahaan sudah memberi jatah.  Kalau kita menolak dengan kondisi seperti ini kita bisa pulang dengan tangan hampa tanpa muatan.  Kadang juga aturan dari pabrik mengharuskan armada itu memuat dengan kapasitas maksimal bahkan lebih itu karena pandemi,“ keluhnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00