Dua Ponpes di Rembang Kelola Sampah untuk Budidaya Maggot

KBRN, Rembang : Pondok Pesantren Roudhotun Nasyi'in Ash Shiddiqiyyah atau RN ASA di Desa Dadapan, Kecamatan Sedan dan Ponpes Al-Hassan di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang tengah mengembangkan budidaya Maggot.

Organisme yang berasal dari larva Black Soldier Fly (BSF) itu dikembangbiakkan dari sampah organik untuk kemudian dijadikan bahan pakan ikan dan unggas.

Pengasuh Ponpes RN ASA, Muhammad Abadi mengatakan, program dari Yayasan Transformasi Kebijakan Publik sangat membantu menyelesaikan permasalahan sampah organik di ponpesnya. Baru dua bulan berjalan, budidaya maggot sudah memperlihatkan hasilnya.

"Ini bisa menyelesaikan permasalahan sampah organik yang selama ini kita alami, biasanya kita timbun dan buang ke sawah. Maggotnya juga sudah jadi ini, gemuk- gemuk," ujarnya.

Menurut Pengasuh Ponpes dengan 200-an santri itu, Pengelolaan sampah organik dan budidaya Maggot sejalan dengan rencananya dalam mengembangkan ekonomi dalam bentuk budidaya ikan Nila, Gurami hingga ternak ayam. Mengingat, Ponpes RN ASA telah sukses membuka Resto Pagar Pelangi yang memang menjual berbagai menu masakan ikan dan ayam.

Sedangkan, di Ponpes Al-Hassan, pengembangan Larva Maggot sudah disertai dengan budidaya ratusan ayam. Dengan demikian, manggot tersebut langsung bisa dimanfaatkan untuk campuran pakan ayamnya.

Untuk menyokong budidaya maggot, saat ini sampah berupa sayur-sayuran atau sisa dapur dari 100 santri dan guru masih mencukupi. Namun demikian dalam dua minggu diperkirakan tidak mencukupi, sehingga Pengasuh Ponpes Al- Hassan, Ahmad Wahyudi atau yang akrab disapa Gus Yudi telah bekerjasama Ketua RT setempat dan lapak Pasar Lasem.

"Disini untuk pakan ayam. Lumayan menghemat biaya pakan, kalau kita hitung dari 100 ayam mulai DOC sampai panen sekitar 3 bulan itu Rp. 3 jutaan. Ini l kita juga akan budidaya lele , Insyaallah, " ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Oprasional Yayasan  Pusat Transformasi Kebijakan Publik, Ethika Fitriani menjelaskan permasalahan sampah organik mendominasi hingga 50 persen lebih di Indonesia. Padahal pengolahan sampah organik sejatinya bisa dilakukan di tingkat rumah tangga, tidak perlu dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Untuk itu, Yayasan Pusat Transformasi  Kebijakan Publik berupaya mengembangkan pengelolaan sampah organik di Rembang dengan cara menjadikannya pakan maggot.

"Maggot ini memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Sehingga bagus untuk tenak, " imbuhnya.

Ethika menceritakan dua bulan yang lalu, pihaknya berkunjung ke 2 ponpes tersebut dengan tahapan awal sosialisasi atau pengenalan Maggot. Kemudian dilanjutkan dengan bantuan pendanaan untuk pembuatan rumah maggot dan membeli bibitnya.

"Kami bantu pendanaan membangun rumah maggot, kita datangkan narasumber yang ahli dalam budidaya maggot. Mereka melihat langsung cara budidayanya dan sekarang mereka merasakan bahwa maggot tentara penghancur sampah yang sangat efektif," tandasnya.

Setelah budidaya Maggot berkembang, Ponpes bisa menjualnya sebagai pakan ternak atau sekalian berbisnis ternak ikan dan ayam untuk konsumsi pakannya. Sehingga bisa menghemat biaya kebutuhan makan para santri, menyelesaikan permasalahan sampah organik dan timbul kemandirian ekonomi ponpes.

"Dan hasil monitoring kami di dua pesantren tadi alhamdulillah semuanya sukses membudidayakan maggot. Bahkan disini, sudah mengembangkan ke ternak ayam dan lainnya akan budidaya ikan dan ternak (RN.ASA-red), ini akan kami dorong," pungkasnya. (MCS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00