Ahli Medis : Jangan Sekolah Tatap Muka Dulu

KBRN, Semarang : Dokter Anung Sugihatono maupun dokter Setya Dipayana juga berpendapat karena pandemi Covid-19 masih terus menyebar, maka sebaiknya pembalajaran secara tatap muka ditiadakan dulu. Hal ini disampaikan dalam acara Webinar "Peran Media dalam Mempromosikan Program Kesejahteraan dan Perlindungan Anak di Masa Pandemi: Anak-anak dalam Pusaran Kluster Keluarga Covid-19", Jumat (18/09/2020).

Namun jika memang banyak masyarakat menghendaki, maka belajar tatap buka bisa dilangsungkan namun harus dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

"Di sekolah yang biasanya ruangannya ber-AC dan tertutup; harus dibuka agar udara bebas keluar. Jumlah siswanya pun harus dibatasi. Selain itu ruang guru dan kepala sekolah juga harus diperhatikan agar bebas dari penyebaran Covid," kata dokter Anung Sugihantono,  Ketua Tim Ahli Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jateng.

Sementara itu psikolog Kuriake Kharismawan dari Univeristas Katolik Soegijapranata yang juga menjadi relawan penanganan Covid-19 bagi pasien Covid-19 di Rumah Dinas Walikota Semarang menjelaskan jumlah anak yang terpapar Covid terus meningkat.

"Pagi tadi ada 16 anak. Rabu lalu bahkan ada yang  melarikan diri. Untung segera kami temukan lagi. Yang pasti, sifat anak-anak itu adalah ingin bermain dan pergi ke man-mana. Itu adalah karakter khas anak di masa puber. Selain itu mereka selalu ingin tantangan," kata Kuriake.

Namun di masa pandemi ini, anak-anak itu terkungkung di dalam rumah. Mereka pasti jemu dan jenuh, akhirnya memberontak. Mereka menantang.

"Apa yang bisa ditantang? Ya melanggar aturan yang ditetapkan pemerintah itu soal protokol kesehatan. Oleh sebab itu agar tidak jenuh, maka di gadget pun mereka perlu dibuatkan tantangan. Beri mereka aneka lomba sehingga energi mereka tersalur secara positif. Jika dilarang terus, mereka pasti akan melanggar larangan itu dengan sembunyi-sembunyi," katanya.

Selain itu, Kuriake juga melihat stigma pasien Covid yang justru membuat mereka tersudut. "Kami ingini masyarakat tidak memberi stigma negatif. Jangan dijauhi. Bila mereka dinyatakan sembuh, berarti itu memang sembuh," ujarnya.

Arie Rukmantara, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa - Bali menjelaskan WHO dan UNICEF selalu berperang melawan pandemi. Saat ini melawan wabah Covid-19. Nanti, pada 20 tahun ke depan, semua akan sudah terbiasa mengenakan masker dan mencuci tangan. Dengan mencuci tangan bisa membunuh bakteri, mengenakan masker bisa mengurangi polutan.

"Menjaga jarak, antre dengan tertib; itu juga menjadi kebiasaan membuat perencanaan terlebih dahulu agar tidak terjadi kerumunan.  Itu artinya pada tahun 2045 nanti kegiatan 3 M  menjadi kunci sambutan dari 3 T (testing - tes spesimen, tracing - penelusuran- , dan treatment - perawatan)," ujar Arie.

Arie sangat mendukung agar slogan Jateng Gayeng Bocahe Seneng terwujud di provinsi ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00